Rabu, 04 Juni 2014

Nyai Ratni

“Sampai di sini saja perjumpaan kita, wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,” suara merdu ummahat berkacamata yang tetap tampak manis di umurnya yang kian senja itu mengmasiri sebuah program kuliah subuh di salah satu stasiun radio swasta. Sembari tersenyum kepada operator sound di hadapannya, ia pun melepas headset yang membelit bagian atas dari jilbab kuningnya. Sembari membetulkan sedikit posisi kacamata minusnya, wanita setengah baya yang usia 57 tahun itu pun menggapit tas tangan kulit dengan tangan kanannya dan kemudian berjalan menuju pintu keluar. Sebelum keluar, sang operator sempat memajukan tangannya untuk mengajak ustadzah itu bersalaman. Ustadzah itu pun menyambut tangan sang operator tanpa menyentuhnya sedikitpun sambil tetap menundukkan pandangan dan bergumam, “Assalamualaikum.” Tapi hal itu sudah cukup membuat sang operator menelan ludahnya karena terpana akan keindahan gundukan kembar di dada sang ustadzah yang sekilas tercetak di jubahnya ketika ia menunduk.

Baru saja keluar ruang siaran, sang ustadzah berkacamata itu langsung disambut oleh seorang laki-laki berjanggut tipis yang berumur sekitar 27 tahun. Tubuhnya begitu kekar dan tegap dibalut baju koko hijau muda, peci putih, dan celana panjang hitam dari bahan kain. Hidungnya yang mancung dan tulang pipinya yang kokoh memperkuat aura keshalihan dan kelelakiannya yang pasti menarik setiap wanita yang melihatnya termasuk ummahat berjilbab panjang di hadapannya yang tengah berdesir sedikit darahnya berhadapan dengan ikhwan yang jelas lebih tampan, lebih tegap, dan lebih muda dari suminya kini. “Assalamualaikum, Nyi,” ujar lelaki itu membuka suara.

“Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, apa kabar mas Tatang?” Jawab sang ustadzah yang baru selesai siaran itu.

“Alhamdulillah ana bi khoir, Nyi. Saya baik-baik saja. Bagaimana tadi siarannya?” Lelaki tampan yang ternyata bernama Tatang itu sengaja atau tidak kian mendekat ke tubuh mungil lawan bicaranya yang tampak begitu alim dan lembut itu.

Jantung sang ustadzah itu berdetak lebih kencang dari keadaan normal menyadari gerakan ikhwan tersebut, wajahnya kian tertunduk, walau tanpa bisa dipungkiri, ketampanan dan aura kejantanan yang terpampang jelas di wajah Tatang membuatnya tak bisa menahan diri untuk mencuri-curi pandang pada Tatang, “Aa…aall…alhamdulillah, lancar-lancar saja masi.” Ia pun sampai tergagap-gagap karenanya.

“Krriiiing….krriiiing….,” sebuah bunyi dari handphone di kantong sang ustadzah pun menetralisiri situasi yang hampir tak terkendali itu, sampai-sampai sang ustadzah itu pun menghela nafas panjang saking leganya. Ia merasa Allah telah menyelamatkannya dari hawa nafsu yang hampir tak bisa ditahannya itu. Ia bergeser dan sedikit berpaling ke sebelah kanan,”sebentar ya, mas.”

“Iya, Tafadhol. Silahkan, Nyaii.”

“Assalamualaikum,” ujar sang ustadzah memberi salam pada lewan bicaranya di telepon yang telah amat dikenalnya.

“Waalaikumsalam, Ibu. Habis siaran ya? Kapan kamu kembali ke Bandung?” Tanya seorang lelaki dengan logat sunda-nya yang khas di ujung telepon.

“Hmm…kayaknya baru malam ini, A. Nanti mau ke rumah Ummu Abdillah dulu di Radio Dalam. Memang ada apa A? Kapan pulang?” Jawab ustadzah tersebut dengan suara yang sedikit dilembut-lembutkan karena lawan bicaranya itu adalah sang suami tercinta. Namun itu sudah cukup membuat Tatang yang tanpa ia sadari terus memandangi wajah putih sendunya yang beitu mempesona sedikit bergetar imannya. Sebagai lelaki, Tatang pun tak bisa bohong bahwa ummahat di hadapannya masih terlihat menarik walau telah memiliki beberapa orang anak.

“Nggak ada apa-apa kok, tapi kayaknya Aa sama Rini bakal lebih lama di sini. Masih banyak yang harus diselesaikan. Jadi tolong jaga anak-anak ya, nggak apa-apa kan, teteh?” Lelaki yang dipanggil Aa tadi menjelaskan.

Walau hatinya sedikit perih, namun ia memaksakan diri untuk menjawab pertanyaan itu sekenanya, “Owh, nggak apa-apa kok, A. Ratni nggak apa-apa di sini. Biar Ratni yang urus anak-anak. Ya sudah, A, lagi buru buru, assalamualaikum.” Ustadzah yang ternyata bernama Ratni itu langsung menutup telepon tanpa basa-basi lagi.

Ya, ustadzah yang baru saja siaran itu adalah Teh Ratni, istri pertama seorang Kiyai yang alim dan begitu cantik. Saat ini, Sang Suami tengah berada di Surabaya bersama Rini, istri kedua-nya, guna suatu urusan dakwah. Dan baru saja suaminya itu menelepon karena urusan itu menuntut tambahan waktu. Walau ia sudah berusaha untuk ikhlas, namun Teh Ratni hanyalah seorang wanita biasa yang punya rasa cemburu dan butuh perhatian. Sudah satu bulan Suaminya berada di Surabaya bersama Rini, madunya itu. Dan selama sebulan pula Ibu Ratni terlarut dalam kesendirian. Tak hanya fisiknya yang lelah, batinnya pun lelah, rindu belaian mesra sang suami yang dicintainya.

Seperti tahu benar hal itu, Tatang kembali menggeserkan tubuhnya mendekati Teh Ratni. Dengan penuh aura kelelakian, ia pun membisiki telinga kiri Bu Ratni,” Nyai keliatan capek, istirahat saja dulu di ruangan saya, sebentar saja.”

Bagaikan tersihir, Bu Ratni pun menganggukkan kepalanya dengan anggun. Ummahat yang begitu indah dipandang inipun menggoyang-goyangkan bongkahan pantatnya yang tercetak jelas di bagian belakang jubah putihnya mengikuti Tatang. Goyangan yang sedikit erotis dan menggairahkan itu sudah pasti mampu menggugah iman setiap lelaki yang memandangnya. Walau telah beberapa kali melahirkan anak lewat vaginanya yang mungil nan imut, tubuh Nyai Ratni tetap terlihat seksi dan menggairahkan. Ia adalah sosok perempuan sunda yang mampu menjaga bentuk tubuhnya walau telah termakan usia. Walau telah berusaha menutup diri dengan jubah dan jilbab panjang berwarna kuning, tonjolan payudara Nyai Ratni yang alim dan shalihah ini dapat kita lihat jelas, begitu montok dan berisi, mengundang setiap insan untuk meremas-remasnya. Apalagi pagi ini ia memakai jubah yang lebih ketat dari biasanya.

Begitu melihat Tatang memasuki sebuah ruangan, Nyai Ratni pun berhenti sejenak. Sesaat ia membaca papan nama di depan ruangan tersebut, “Tatang Zaidi, Kepala Divisi Da’wah dan Syari’at Islam.” Dengan perasaan tenang, karena yakin Tatang yang baru dikenalnya di stasiun radio ini sejak sebulan yang lalu itu adalah seorang ikhwan yang baik-baik, Nyai Ratni pun memasuki ruangan yang hanya berukuran 6 x 4 meter itu. Tanpa disuruh, Nyai Ratni langsung duduk di sofa yang berada di dekat pintu. Seperti kata Tatang tadi, Nyai Ratni memang sedang lelah. Tak hanya lelah fisik, tapi juga lelah batinnya.

“Nyai Ratni Mau minum apa?” tanya Tatang berbasa-basi sambil berjalan menuju dispenser. “Teh manis, mau?”

“Boleh, mas. Gulanya sedikit saja ya,” ujar Nyai Ratni sambil meletakkan tas tangannya di atas meja kaca di depannya. Ia tak merasa canggung sedikitpun. Walaupun ia hanya berdua saja dengan seorang lelaki yang notabene bukan mahromnya di ruangan itu, namun pintu ruangan itu dibiarkan terbuka oleh Tatang. Ia pun semakin yakin bahwa Tatang tak akan berbuat macam-macam pada dirinya.

Tatang segera pergi ke dapur mengambil minuman segar agar tamu istimewanya ini tak menunggu terlalu lama, Tatang langsung saja membawakan cangkir putih berisikan teh manis itu dan meletakkannya di depan ummahat berparas manis nan berbodi indah itu. “Silahkan teh manisnya, Nyi.”

“Iya, syukron ya mas. Terima Kasih,” ujar Bu Ratni. Ia langsung meraih pegangan cangkir yang dihidangkan di hadapannya itu sembari menyeruput perlahan teh manis yang begitu nikmat itu dengan bibirnya yang mungil dan berwarna merah muda. Sedikit demi sedikit, Ibu Ratni menghabiskan teh manis yang terasa begitu lezat di permukaan lidahnya itu. Ia rasakan tubuhnya terasa panas seketika dan sedikit bergetar, namun ia membiarkannya. Mungkin hanya sedikit efek hangat dari teh manis ini, pikir Bu Ratni.

“Ada apa, Nyi. Kok kelihatannya gelisah begitu?” Bu Ratni mulai menyadari kalau ini bukan sekedar efek hangat dari teh manis biasa. Tatang pasti telah mencampurkan sesuatu ke dalam minumannya tadi. Kurang ajar sekali ikhwan ini, pikirnya. Tubuhnya mulai berkeringat. Sekujur tubuhnya terasa lemas dan kelopak matanya begitu berat. Dengan mata setengah menutup, ia menggaruk-garuk kecil pundak kirinya dengan tangan kanannya yang lentik karena terasa sedikit gatal. Untuk mengurangi rasa kantuk yang menerpa, Bu Ratni mencoba mengalihkan pandangan pada jam yang ada pada dinding di belakangnya., namun usahanya itu tidak membuahkan hasil.

“Tidak, tidak apa-apa kok mas Tatang,” Tatang yang jauh lebih muda itu kini menyadari bahwa istri pertama Ustadz Haji Maulana itu telah masuk dalam jebakannya dan sebentar lai akan memasrahkan tubuh molek nan sintal miliknya untuk digagahi Tatang dengan penuh keikhlasan. Tatang pun semakin tak sabar dan segera mengambil tempat di sebelah kiri Nyai Ratni. Ia genggam tangan kiri Bu Ratni yang halus dengan tangan kanannya yang cukup kasar. Sementara itu tangan kirinya mulai melakukan serangan fajar dengan mengelus-elus pipi sebelah kanan Bu Ratni yang lembut bukan main dan penuh aroma kewanitaan. Ia hadapkan wajah ummahat manis berjilbab yang tengah berjuang melawan sensasi aneh yang disebabkan teh manis ajaib buatan Tatang tadi agar menghadap ke wajahnya. Ditatapnya mata yang tengah berpendar di balik kaca mata itu dengan penuh kemesraan.

“mas…..Tatang. Jangan ya, kita kan bukan mahrom. Lagipula nanti kalau ketahuan orang bagaimana?” Tatang tak menganggap itu sebagai penolakan. Bu Ratni tak sedikitpun menarik telapak tangan kirinya yang tengah diremas-remas penuh nafsu oleh tangan kanan Tatang, lagipula Bu Ratni mengucapkannya dengan sedikit berbisik, penuh kelembutan dan keteduhan bagai berbicara pada suaminya sendiri. Dan ketika Tatang menarik lembut kepalanya agar wajah mereka mendekat, Bu Ratni pun tak berpaling atau berontak sedikitpun. Ia mulai menikmati sensasi seksual yang begitu nikmat menggerayangi tubuhnya. Apalagi sudah sekitar 2 minggu suaminya tak sekali pun menyentuhnya. Sebelum Aa berangkat ke Surabaya, ia sedang dalam keadaan haidh sehingga tak bisa digauli. Baru kemarin darah haidhnya berhenti. Dengan kata lain, saat ini Bu Ratni sedang dalam masa subur sehingga membuat birahinya begitu meledak-ledak.

“Tenang saja, Bu. Tatang nggak akan nyakitin Nyai. Tatang cuma mau ngasih Nyai kenikmatan yang nggak akan pernah lupa. Lagipula, nggak akan ada yang melihat kita di sini.” Kini bibir dua insan yang bukan mahrom ini hanya berjarak sekitar 2 cm. Ratni pun telah memejamkan matanya sebagai tanda kepasrahan dirinya akan apa yang bakal terjadi setelah ini. Walaupun telah beristri dan mempunyai 2 orang anak, Tatang tak pernah menghilangkan sosok ummahat bertubuh bahenol asal sunda yang sering mengisi imajinasi liarnya ketika bermasturbasi. Kini, langsung di hadapannya, telah terdiam seorang ummahat berjilbab kuning dan berjubah putih idamannya itu sedangkan ia sendiri memakai baju koko hijau muda lengkap dengan peci putihnya sebagai tanda kealiman dan keshalihan keduanya. Namun kini sang maswat dengan nakalnya telah memejamkan mata dan sang ikhwan pun tengah asyik meremas-remsa tangan sang maswat dengan syahwat membara. Tanpa terasa keduanya telah berada di tepi jurang perzinahan.

Melihat Nyai Ratni yang tak memberikan sedikitpun perlawanan dan malah telah begitu pasrah pada keperkasaan dirinya, Tatang pu mengambil inisiatif.Sedikit demi sedikit ia menarik wajah Nyai Ratni ke wajahnya dan…hmmm…hhmmmch…..hhmmmmpff…bibir seksi nan indah seorang Nyai Ratni telah bersarang di bibirTatang. Tatang pun tak tinggal diam, dibelahnya sedikit demi sedikitbibir ummahat yang juga merupakan ustadzah terkenal itu dengan mendorong lidahnya yang kasar dan hangat. Tanpa kesulitan berarti, di mana Nyai Ratni pun telah begitu terangsang oleh tatapan birahi Tatang dan gairahnya sendiri yang sedang berada di puncak, lidah Ahmda telah mampu menembus rongga mulut Ratni yang alim itu. Tak lama kemudian, kedua anak Adam yang terkenal dengan keshalihannya itu telah saling hisap bibir pasangannya diiringi pergulatan lidah di dalamnya yang begitu seru dan basah. Entah karena reflek atau memang disengaja, tangan Nyai Ratni ganti merangkul Tatang hingga keduanya larut dalam pusaran syahwat yang begitu menggairahkan.

Sebagai catatan, selama berbagai aktivitas itu terjadi, pintu ruangan Tatang, tempat semua kemesuman itu terjadi, sama sekali tidak tertutup. Pintu itu terbuka lebar, sehingga orang-orang yang berjalan dekat ruangan itu pasti bisa melihat segalanya. Karena itu, Tatang berusaha membuat suara sesedikit mungkin. Namun untungnya, ruangan Tatang berada di ujung sebelah barat kantor radio tersebut, sedikit terpisah dengan ruangan kantor yang lain. Sehingga suara dari ruangan Tatang tak akan bisa terdengar dari luar atau bahkan tertelan hiruk-pikuk kesibukan kantor di pagi hari. Ditambah lagi ruangan Tatang juga dilapisi dengan peredam suara karena ia sering mengedit siaran radio di ruangan tersebut.

‘Masya Allah….”, guman Tatang. Dalam hati Tatang sangat kagum dengan ulah ustazah ini. Tanpa disangka sama sekali oleh Tatang, Nyai Ratni bergerak begitu aktif. Tampaknya Nyai Ratni telah begitu kuat menahan gairah seksualnya selama ini sehingga terasa bagaikan bom waktu yang menggemparkan ketika akan dilepaskan. Bibir dan lidah ustadzah kondang yang pernah dinobatkan sebagai ibu teladan itu silih berganti memagut, memberi kenikmatan erotik pada bibir lelaki beristri di hadapannya. Tampak keduanya tak lagi mengingat status dan kedudukan diri mereka masing-masing. Keduanya telah hanyut dalam gelombang syahwat yang menenggelamkan hasrat mereka berdua dalam lautan birahi kebinalan. Tatang yang merasa lebih berpengalaman membalas dengan tenang pagutan ummahat berjubah putih itu, dijulurkannya lidahnya bagai anjing kelaparan agar segera dihisap oleh ummahat di hadapannya itu,”hmmmm…hmmmm….hhmmppph….hhhmmmmpppf.”

“Duuh, Teteh. Kontol Tatang jadi tegang neh. Tetek Nyai merangsang banget, bikin horny. Boleh gak Tatang pegang, sedikit saja?” Tatang mulai menunjukkan niatnya secara terang-terangan. Ia mencoba memancing libido yang selalu tersimpan rapat-rapat dalam diri seorang ibu shalihah yang tengah memagut liar bibirnya itu.

Entah setan apa yang tengah beraksi, atau memang dorongan seksual ini begitu kuat. Nafas Nyai Ratni mulai tak beraturan dan jantungnya pun berdetak lebih kencang dari kecepatan normal. asa kantuk yang tadi menderanya, berubah menjadi keinginan untuk memasrahkan diri secara total kepada lelaki muda yang begitu tampan di depannya. Dengan lembut dan sedikit bergetar, ia ucapkan dengan pasti, “Iya Mas….Pegang aja tetek Nyai Ratni, lakukan sesuka kamu…”

Mendengar kata-kata penuh penyerahan diri seutuhnya dari seorang ustadzah yang mulai mendesah-desah tak karuan itu, tubuh Tatang pun semakin panas. Tangan kirinya mulai menyelusup masuk ke balik jilbab panjang Nyai Ratni. Ia meraba-raba peyudara suci nan terawat milik ustadzah cantik itu secara perlahan. Ia ingin membuat Ratni merasakan sendiri getaran syahwat yang menggebu-gebu setelah bagian sensitifnya ini jatuh ke tangan Tatang. Benarlah, sesaat kemudian, desahan-desahan pelan diselingi erangan binal meluncur di antara bibir sang isteri Ustadz itu, “ssshh…akkhhhh….maasssshhh…mas Tatang, enak masssshh….!!”

“Iya ku sayang, Tatang tahu. Pintunya Tatang tutup dulu ya, biar kita tambah bebas.” Ratni tak langsung menjawab, bibirnya kelu dan hanya kembali memagut bibir Tatang untuk meredakan gairahnya. Namun sebuah cubitan nakal di tangan kanan Tatang-lah yang kemudian menjadi lampu hijau bagi Tatang. Ia pun melepaskan kulumannya pada bibir Nyai Ratni yang nampak sedikit kecewa karenanya.

Dengan jantannya, Tatang pun merebahnkan ustadzah yang sudah horny itu di atas sofa. Ukuran sofa yang kecil memaksa kaki Nyai Ratni tidak bisa selonjor dengan penuh namun sedikit naik karena tertopang pegangan sofa di seberang. Dalam keadaan tubuh ‘siap entot’ itu, Tatang meninggalkan ummahat seksi itu sesaat. Ia berjalan ke arah pintu ruangan dan menutup serta menguncinya. “Cklik…” bunyi itu seraya menandakan telah terkuncinya iman kedua insan yang sebenarnya telah mempunyai pasangan masing-masing ini, dan tinggallah nafsu syaithan yang menjadi hakim di ruangan itu.

Tatang pun kembali mendatangi sang bidadari surga pujaan hatinya yang telah terkapar menahan birahi di atas sofa. Subhanallah, gumamnya dalam hati. Tanpa dinyana pula, bidadari berjilbab itu mendesah dengan binalnya, “Mas Tatang, sini dong!” Nyai Ratni yang manis itu telah membuka jalan bagi imaji liar Tatang dengan desahan lembut menggemaskan yang pasti merangsang birahi setiap pria yang mendengarnya. Tatang langsung melepas kancing baju kokonya dari atas ke bawah satu per satu. Sesaat kemudian, tubuh tegap laksana anggota TNI itu telah terpampang jelas di depan Nyai Ratni yang tengah membuncah nafsunya hingga memaksa ummahat itu menelan dalam-dalam ludahnya, “Mas Tatang…tubuh kamu seksi banget. Nyai Ratni jadi nggak tahan…”

Komentar binal seorang ustadzah terkenal itu membuat syahwat Tatang menggelegak. Ia langsung berlutut di sisi kaki Nyai Ratni yang penuh kepasrahan hati menelantangkan tubuh sintal khas sundanya si atas sofa. Tatang lepaskan sepatu hitam yang melekat di kaki isteri Ustadz besar itu, dan mengendus-endus bau kaki yang menyengat nan menggairahkan di kaos kaki Ratni. Ia tanggalkan kaos kaki berwarna krem itu dan langsung mencaplok jemari kaki  Ratni yang lentik dengan mulutnya.

Nyai Ratni sampai terkaget-kaget dibuatnya. Tak pernah sekalipun suaminya yang shalih itu memanjakan birahinya seperti ini. Suaminya hanya menganggap bersenggama adalah cukup dengan memasukkan kontol ke dalam memek wanita, dan setelah itu selesai. Mungkin ulama besar seperti beliau menganggap foreplay atau pemanasan seksual seperti ini hanya membuang-buang waktu belaka. Padahal Teh Ratni dan Teh Rini pun hanya wanita biasa yang butuh sensasi-sensasi baru dalam kehidupan seksual mereka. Uups, Teh Rini? ya, Teh Rini pun begitu haus akan rangsangan-rangsangan nakal seperti ini. Insya Allah nanti saya akan ceritakan kisahnya.

Dan saat ini, seorang ikhwan yang telah mempunyai isteri dan anak, bertubuh tegap, macho, dan berwajah rupawan sedang berlutut di bawah kaki Nyai Ratni dan menjilat-jilat serta menghisap-hisap jari-jemarinya yang indah. Hal itu seolah menghapuskan rasa dahaga Nyai Ratni akan aktivitas seksual yang sedikit di luar kebiasaan. Tanpa terasa, vagina suci miliknya telah berdenyut-denyut kecil dan terlontar desahan dan erangan penuh luapan syahwat dari bibir indahnya, “Ssaaa…aakkkhhhh…Mas Tatang, enak sekali kulumanmu….,”

Nyai Ratni pun bertekad akan menundukkan diri sehina mungkin di depan lelaki yang telah bangkitkan gairah masa mudanya yang haus akan seks.

Tanpa terasa, Tatang telah mengangkangi tubuh mungil istri idaman itu di atas sofa. Ia telah menyingkapkan jubah putih Nyai Ratni hingga pinggang. Kini paha mulus dan berisi serta betis yang membujur indah yang selalu dijaga dari pandangan orang itu telah terekspos bebas dan telah dibanjiri air liur bekas jilatan Tatang. Ya, Tatang telah selesai menyapu bersih sepasang paha dan betis indah seorang Nyai Ratni, isteri Ustadz Haji yang selama ini hanya ada dalam lamunan joroknya dan menghisap sejumlah besar air maninya yang habis ketika bermasturbasi menkhayalkan bersetubuh dengan maswat itu.

“Nyai kepanasan ya? Tatang lepas aja ya jubahnya…” Nyai Ratni tidak segera menjawab. Ia hanya memejamkan matanya sambil berdehem ringan yang langsung diartikan Tatang sebagai izin.  Dalam hati wanita sholehah itu tersadar akan dosa dan zina yag ia lakukan.

Bagaikan terkejut, seolahia diingatkan akan dosa  zina ini. Sesaat ia diam dan beristighfar.

“Astaghfirullah…Astaghfirullah… ia memohon ampun atas dosa ini. Hanya sedetikia tersadar dari dosa ini.
Karena desakan syahwat yang melanda dirinya tak mampu dilawannya. Ia tak sanggup menahan amuk birahi yang melanda. Ia pun kembali larut dalam perzinaan yang nikmat dan syahdu.

Dalam sekejap, jubah putih ummahat itu telah tergeletak di atas lantai meninggalkan pemiliknya tanpa busana, hanya jilbab kuning, bra putih dan celana dalam putih berenda yang tersisa menutupi tubuh indah Nyai Ratni. “Nyai, tubuh Nyai indah banget, putih, mulus, beda banget sama punya isteri saya. Memek Nyai juga pasti lebih indah dan lebih legit!”

“mas…Tatang, malu neh. Jilbabnya gak dilepas sekalian?” Nyai Ratni mulai membuka mata dan membalas perkataan-perkataan cabul Tatang.

“Nggak usah, Nyai. Tatang lebih suka Nyai pakai jilbab itu. Lebih cantik dan lebih anggun. Jadi lebih semangat buat merasakan manisnya tubuh ustadzah kayak Nyai.”

“Panggil aku Nyai saja ya Tatang. Mau kan”

“Iya deh, Nyaii sayang. Kamu kok binal banget sih. maswat binal kayak kamu tuh cocoknya dientot tiap hari sama kontol gede ku.  Ya, masirnya sang ustazah itupun kehilangan sifat-sifatnya yang santun dan alim. maswat sunda itu telah menjelma sebagai maswat binal dan sundal (bukan sunda lagi).

Ruangan sempit itu, juga busana muslimah Nyai Rini yang telah berserakan di lantai semua telah terjadi. Seolah busana muslimah yang sehari-hari dipakai sang ustazah itu menjadi saksi atas perzinaan pemiliknya. Begitu juga jilbab yang masih dipakai Nyai Ratni, seakan menjadi saksi bisu atas perbuatan dosa ini.

Mau lihat kontol Tatang gak? Banyak bulunya lho…” Kata-kata cabul Tatang membuat Nyai Ratni tambah terangsang. Ia tak memperdulikan lagi bahwa Tatang adalah suami orang.

“Mas Tatang….Mau dunk. Kasih lihat kontol kamu sama Nyai dong.”

“Apa Nyai? Tatang nggak denger. Coba ulangi lagi?” Tatang pun memancing rasa penasaran ummahat yang sudah setengah telanjang itu dengan menyodorkan daun telinga sebelah kanannya. Syahwat Nyai Ratni pun makin berkobar melihat tingkah Tatang yang seperti mempermainkan dirinya.

Dengan birahi terbakar dan siap meledak, Nyai Ratni meraih telinga Tatang san berbisik lembut, “Tatang sayang….kasih liat dong kontol kamu sama Nyai. Nanti Nyai kasih liat memek Nyai deh, mau ga? Nyai Ratni merasa begitu terhina dengan tindakannya sendiri. Ia merasa harga dirinya telah tercabik-cabik di depan ikhwan perkasa ini. Ia langsung terkapar lemah sedangkan Tatang malah makin bersemangat mendengar bisikan luapan syahwat ustadzah alim yang telah menunjukkan kebinalannya itu telah ikhlas sepenuh hati merelakan bagian paling sensitif dan paling suci miliknya untuk dijamah Tatang.

“Iya deh Nyai Sayang. Ini Tatang buka kejantanan Tatang, habis Nyai maksa teruz sih” Tanpa butuh waktu lama, Tatang, sang suami shalih yang merupakan kepala divisi dakwah di stasiun radio tersebut, telah menelanjangi dirinya sendiri. Ia hadapkan kontolnya yang telah menegang dan mengangguk-angguk seksi itu pada wajah ummahat shalihah di depannya. Ia sorongkan seonggok daging berurat yang berdiameter 5 cm dan panjang yang lebih dari 20 cm serta berkepala kemerahan bekas sunat itu pada bibir Nyai Ratni.

Tatang tersenyum melihat Nyai Ratni yang terkagum-kagum melihat batang kemaluannnya. Ustazah cantik itu menelan ludah, sementara kontol Tatang menganggguk-angguk tepat di dekat wajah sang ustazah. Nyai Ratni menjulurkan tangan menggapai batang perkasa itu…. dan….Tatang mendesis sshhhh………
Nyai, bolehkah aku menyentuh memek Nyai ?
Tangan Tatang turun ke bawah meraih bawah perut Nyai Ratni, turun lagi, dan mengusap-usap gundukan daging yang terletak di bawah perut sang ustazah.

“Ya Allah….. Nyai Ratni……empuk sekali memek Nyai…”
Nyai Ratni yang masih mengenakan jilbab itu memejamkan mata menikmati usapan-usapan lembut di kemaluannya.

Cukup lama tangan Tatang bermain-main di kemaluan Nyai Ratni. Tangan Tatang yang telah terlatih begitu lembut mengusap-usap daging empuk aurat milik sang ustazah. Dibelai-belai, dan diremas secara ritmis nan lembut, membuat Nyai Ratni tak mampu lagi bertahan.

Pertahanannya runtuh total. Iman nya pun jebol.
Kesetiaan yang selama ini menjadi pagar dirinyapun tak lagi diingatnya.
Seratus persen Nyai Ratni telah berniat menuntaskan perzinaan terlarang ini.

Di ruangan yang sempit itu, seorang muslimah suci telah melepaskan jubah putih sehingga
telanjang di hadapan seorang lelaki yang bukan suaminya. Hanya  jilbab yang masih tersisa di kepalanya.
Dan sang lelaki bernama Tatang itu terus membangkitkan birahi sang ustazah, terus mengusap dan membelai-belai daging empuk di bawah perut Nyai Ratni. Tangannya masuk ke dalam celana putih berenda milik sang ustazah. Dengan kelima jari yang seolah bekerja secara kompak, jari-jari itu menggelitik setiap inci daging montok itu. Sementara si Nyai cantik berjilbab itu merintih-rintih menahan nikmat.

maswat Sunda(l) itu telah menjadi maswat binal  yang haus akan sex, dan sang maswat cantikjelita itu  telah bertekad untuk menuntaskan perzinaan yang syahdu ini.

“Oh Nyai Ratni… oh Nyai.., memek kamu indah banget Nyai?” Tatang membisik

“Mas Tatang…oughh……..”, hanya desis lirih yang keluar dari mulut sang Ustazah cantik itu.
“Nyai Ratni… bolehkah kontolku mengentoti memekmu Nyai?”
“Ouhh…apa mas Tatang?”, nafsu birahi membuat Nyai Ratni tak begitu jelas mendengar kata-kata Tatang.
“Bolehkah kontolku mengentoti memek, Nyai?”, Tatang mengulang kalimatnya.
"Oh, iya mas Tatang, segera entoti aku...oh...mas entot memekku...oh entoti memekku .."

Dan jilbab suci sang ustazah , menjadi saksi atas perzinaan itu. Begitu pula dengan busana muslimah yang berserakan di lantai yang  sedari tadi  lepas dari tubuhnya. Andaikan saja jubah putih yang tergolek dilantai itu punya mata dan telinga, pasti bisa ikut menikmati persenggamaan dan perzinaan yang sedang dan akan dilakukan oleh pemiliknya.


Nyai Ratni yang telah dimabuk birahi itu begitu penasaran akan sebatang kontol yang mengangguk-angguk penuh nafsu di hadapannya. Ia pun mulai mengelus-elus kontol yang telah begitu tegang itu dengan tangannya yang lembut. Entah sadar atau tidak, tangan kanan Nyai Ratni bergerak dari depan ke belakang berkali-kali dengan tempo sedang. Ini membuat semacam kocokan yang makin membangkitkan gairah Tatang yang sudah telanjang bulat.

Demi merasakan kocokan lembut ummahat berkacamata itu, Tatang semakin ditenggelamkan oleh birahinya sendiri. Ia letakkan lututnya di atas sofa dan memajukan penisnya yang begitu bergejolak sehingga menyentuh bibir merah muda ustadzah shalihah itu. JIlbab kuning panjang Nyai Ratni terlihat sedikit basah akibat keringat yang mulai mengucur sehingga menampakkan dengan jelas body indahnya pada Tatang. “Ayo dong, Nyai sayang….Masukin kontol Tatang ke dalam mulut indah Nyai. Tatang boleh kan ngentotin mulut Nyai? Akkhhh… Ayo Nyai, gedean mana sih kontol Tatang sama punya suami Nyai?” Gesekan-gesekan pergelangan tangan Nyai Ratni di bulu kemaluan Tatang yang hitam, keriting, dan lebat itu membuat Tatang gemetar bukan kepalang.

“Iya sayang…masukin aja kontol kamu ke mulut Nyai, Nyaii pengen banget ngemut kontol kamu. Habisnya punya kamu jauh lebih besar dan lebih panjang daripada punya suami Nyai.”

“Duh, kamu kok ngomongnya begitu sih Nyai….Kamu ustadzah dan ummahat tapi omongannya kayak pelacur. Kontol aku kan bau banget.” Tatang semakin puas menghina isteri pertama Ustadz kondang yang dipuja banyak orang itu. Kata-kata kotor terus keluar dari bibir Tatang sementara tangannya memegangi kepala Nyai Ratni yang terbungkus jilbab bagai memegangi kepala PSk pinggir jalan.

“Nggak apa-apa Tatang sayang…Nyai suka kok kontol bau!” tanpa pikir panjang lagi, Nyai Ratni langsng memasukkan kontol Tatang yang besar bukan main dengan gerombolan urat di batangannya yang telah membiru ke dalam mulutnya. Ia telan bulat-bulat kontol yang telah berlendir di ujungnya itu, menunjukkan betapa terangsangnya pemiliknya.

“Terus Nyai…OOhhh, ternyata kamu doyan sama kontol gede ya?” Tatang terus mendesah dan mengerang menikmati mulut dan lidah ummahat sekelas Nyai Ratni yang sedang memanjakan kemaluannya. Sementara itu Nyai Ratni pun tak bisa berbuat apa-apa saking asyiknya ia mengulum kejantanan pria shalih di hadapannya. “OOhh, Nyai sayang…begini yoh rasanya ngentot mulut Nyai.”

“Begitu panasnya permainan kedua insan ini, di mana Nyai Ratni tampak begitu lihai mengoral penis Tatang sampai Tatang terheran-heran karenanya. 10 menit kemudian, Tatang merasa gejolak nafsu di kontolnya sudah tak tertahankan lagi. “Nyai lonteku…..mana janjimu tadi, katanya mau kasih liat memek kamu!”

Seperti robot yang selalu menurut apa kata tuannya, Nyai Ratni langsung memelorotkan celana dalamnya yang ternyata telah dibanjiri cairan cintanya akibat rangsangan-rangsangan yang dilancarkan Tatang betubi-tubi. Tak lupa ia tanggalkan pula bra putihnya hingga bagian-bagian paling vital dan sensitif itu tersingkap sudah. “Tatang sayang, Nyai udah telanjang neh…..Entotin Nyai ya, Nyai lagi horny banget neh…”

Mendengar pengakuan jujur itu, darah Tatang langsung menggelegak. Berarti pagi ini ia akan menikmati manisnya kemaluan seorang isteri yang begitu alim ini lengkap dengan butir-butir ovum yang hangat, baru saja matang, dan pastinya siap untuk dibuahi beteteh-beteteh sperma yang begitu kental miliknya.

“Nyai, kamu mau aku hamilin…?” Bisik Tatang lembut di telinga Nyai Ratni.

Nyai Ratni pun menjawab tak kalah lembutnya, “Mau sayang…..entotin Nyai sampai sampai puas kagak bakaln hamil.” Tatang langsung mengambil posisi mengangkangi pinggul sang Nyai pujaannya. Ia singkap sedikit bulu kemaluan ummahat yang cukup lebat itu karena belum sempat dicukurnya. Dibelahnya sedikit demi sedikit memek suci nan harum itu hingga ia melihat dengan jelas lapisan merah muda dengan butiran sebesar kacang menggantung di atasnya. “Akkhh…Tatang, cepet masukin kontol kamu. Entotin aja Nyai sepuasmu…”

Seperti tak ingin cepat mengmasiri kenikmatan ini begitu saja, Tatang hanya mamarkir kepala kontolnya yang menggunung itu di sela-sela rerumputan hitam yang menutupi gundukan bukit menggemaskan milik seorang ustadzah terkenal itu. Sebagai gantinya, ia merapatkan dadanya ke payudara Nyai Ratni dan menggesek-gesekkannya. Tak lupa payudara montok dan kencang itu walau tak begitu besar ia remas-remas sambil sesekali memelintir putingnya yang kecoklatan.

“Aakkkhhhh….Tatang sayang” Nyai Ratni serasa menenggak anggur merah ketika diperlakukan seperti itu. Ia telah mabuk dalam kubangan nafsu kebinatangan yang terlarang akibat birahinya sendiri. Tatang, yang sekalipun shalih dan bertubuh tegap, namun tetap saja sebenarnya ia tak boleh menikmati manis dan harum tubuh dan alat seksual ummahat itu. Namun kini, Tatang tengah menumpahkan birahi jalangnya pada tubuh indah nan seksi ummahat itu. Gilanya lagi, Nyai Ratni bukannya berontak atau menghindar, namun ia malah mengizinkan bahkan memaksa Tatang untuk berbuat cabul pada dirinya. Bahkan gesekan-gesekan kontol Tatang pada bibir vaginanya membuatnya begitu tersiksa. Bagai kesetanan, Nyai Ratni langsung memeluk tubuh Tatang yang mulai basah akan keringat erat-erat dan mencakar-cakari punggung ikhwan perkasa itu, “Sialan kamu Tatang….cepet masuki kontol kamu ke memek aku. Entotinsayaaaaaaannnggg…..!”

“Duh, kok omongan Nyai kayak pelacur gini sih. Kamu kan ummahat shalihah, jilbab kamu aja panjang banget gini.”

“Iya aku pelacur sayang….aku perek jalang, aku budak seks kamu. Cepet yang…..ayo ngentot sama Nyaii, genjoti memek Nyai keras-keras…”

Tak mau membiarkan bidadari berkacamata itu lebih tersiksa lagi, Tatang pun menurunkan pinggulnya perlahan. Tanpa harus diperintah lagi, kepala kontol yang cukup besar itu mulai beraksi membelah vagina yang telah melahirkan beberapa orang anak itu. “Nyai…memek Nyai kok anget banget sih. BEda sama punya isteri Tatang….Tatang suka banget memek Nyai, OOOOhhhh…telen kontol Tatang dong pake memek Nyai.”

Entah kenapa Tatang kembali memanggil Nyai Ratni dengan sebutan Nyai. Mungkin menurutnya, kata ‘Nyai’ terdengar lebih erotis daripada kata ‘Ratni’. Dan itu terbukti, Nyai Ratni yang semula sedikit pasif, kini aktif kembali. Dengan kelamin yang sudah berkedut-kedut tak karuan, dan daraf sensualnya yang terus berkontraksi, Nyai Ratni mulai menghisap-hisap kontol Tatang yang berusaha menyeruak ke dalam rongga vagina yang sebenarnya haram buatnya.Nyai Ratni pun kembali mendesah-desah binal seolah memberi semangat pada Tatang untuk segera menyetubuhinya. Setelah beberapa saat mengempot-negmpot kepala dan batang kontol Tatang, Nyai Ratni pun dapat merasakan kejantanan yang lebih besar daripada yang biasa ia layani sebelimnya itu menerobos masuk ke dalam organ vitalnya.

“Akkhhh…Nyai….Tatang masuk, Nyai. Bismillahir Rahmannir Rahiiiiiiiiiiiimmmmmm.” KOntol Tatang pun langsung amblas dalam hangatnya rongga kelamin Nyai Ratni. “Nyai ikhlas kan saya entot?”

Nyai Ratni langsung menggeletar ketika merasakan sebatang penis dengan kehangatan dan ukuran yang jauh berbeda dari milik suaminya tercinta, memenuhi rongga memeknya. Rasa kenikmatan itu terus menjalar ke seluruh tubuh, apalagi ketika Tatang menarik kontol yang begitu ia banggakan itu disertai hentakan keras menekan dinding kemaluan suci itu setelahnya, hingga si empunya sampai menggelinjang dan mengangkat dadanya tinggi-tinggi. “Nyai ikhlas kok yang……Nyai ikhlas dientot sama kamu” Tatang mulai melakukan kocokan erotis pada vagina mungil Nyai Ratni itu berkali-kali hingga Nyai Ratni tak mampu membuka matanya saking nikmatnya genjotan Tatang. Apalagi tak henti-hentinya Tatang meremas-remas peyudaranya dan melumat bibirnya yang merah muda. “OOOhhh…ampun Tatang. Ennnaaakkkk bangeeeettt…..entoti Nyai truz sayaaaannngg….” Ummahat itu begitu histeris ketika Tatang meningkatkan tempo genjotannya. Untungnya, teriakan binal ummahat yang begitu keras itu langsung diredam Tatang dengan bibirnya agar tak terdengar keluar.

Ternyata urat-urat di batang kontol Tatang telah benar-benar membuat Nyai Ratni menjadi gila. Ia pun turut menaik turunkan pinggul dan pantatnya yang montok seirama dengan goyangan erotis Tatang. Keduanya telah sama-sama bercucuran keringat saat Nyai Ratni melingkarkan kakinya di pinggul Tatang sehingga ikhwan itu semakin mudah melesakkan kontol hitam legam nan besar miliknya ke dalam kemaluan menggemaskan milik ustadzah yang telah begitu binal itu, “OOOhhh….ooohh….yes….Nyai gila, memeknya unstadzah legit banget euy….Tatang doyan ngentotin Nyai…”

Setelah sekitar 30 menit digagahi oleh Tatang dengan liarnya, gelora birahi Nyai Ratni hampir sampai di puncak kenikmatan untuk kesekian kalinya. Ia mulai meracau dan berteriak-teraik tak karuan, nafasnya sudah begitu memburu demi menatap kemaluannya yang cantik itu dipompa tanpa ampun oleh ikhwan yang tak henti-hentinya menghembuskan nafasnya yang panas dan penuh gairah ke wajah Nyai Ratni. “OOhhh…Tatang. Nyai mau keluar lagi neh…..semprot memek Nyai pake peju kamu dong yang anget n lengket…..ampuni Nyai Tatang……”

Tatang pun menambah intensitas genjotannya pada vagina yang masih begitu sempit dan hangat itu ia rasakan. Ia merasa nafsu iblisnya telah hampir sampai di batas maksimal. Dan begitu Tatang merasakan derasnya gelombang yang menjalari batang kemaluannya……ia pun mendekap tubuh sang ummahat idaman dan melesakkan kontolnya sedalam mungkin.

“Aaaaaaaaakkkkkkkkkkhhhhhhhhhh……rasain Nyai peju Tatang, Dasar Nyai pelacur jalang……..”

“Crrrrroooooootttt…..cccrrrooooottt…” Semburan lava panas nan lengket itu pun menghentak-hentak menghantam dinding memek Nyai Ratni sehingga mebuat benteng birahi ustadzah berjilbab panjang itu hancur lebur. Ia balas memeluk Tatang dan mencakar-cakari apa saja yang ia bisa raih dari tubuh Tatang. Tubuhnya berkelojotan dan menggelinjang bagai seekor anjing betina yang sedang disemprot air mani si jantan. Dan masirnya….Nyai Ratni pun melepaskan cairan cintanya yang paling suci dan paling penuh dengan ovum hingga ia terkulia lemas tak bertenaga.

Seiring dengan terlepasnya cairan cinta keduanya, Tatang pun langsung roboh di atas tubuh Nyai Ratni. Dengan penis yang masih bersarang di memek Nyai Ratni seraya menyemprotkan kedutan kedutan kecil penghabisan, Tatang pun menciumi wajah Nyai Ratni sebagai ucapan terima kasih. Ia merasa sedikit bersalah karena telah merusak kehormatan dan kesucian seorang Nyai Ratni yang tampak menggulirkan setetes air mata dari sudut matanya. Semsntara itu, pasangan zinanya itu kini telah tak sadarkan diri setelah dipuaskan sepuas-puasnya oleh kuda binal berkontol panjang itu. Segaris senyum tersungging di bibirnya menyiratkan perasaan hatinya yang begitu bahagia.Keduanya pun terus berpelukan bagai tak mau dipisahkan hingga adzan zhuhur membangunkan keduanya.
TAMAT

Beni dan Ibunya

Ibu Beni duduk dengan perlahan nyaris tak menimbulkan suara di tepi tempat tidur, Beni masih belum sadar, asik menonton. Untung saja ia tak menonton sambil mengocok kont01nya. Anna melirik layar, nampak pemain film wanita yang bertetek besar sedang merem melek disodok lawan mainnya. Sangat panas adegannya. Lama juga ia menonton. Sedikit banyak membuat gairahnya bangkit. Ia merasakan m3meknya agak basah. Tak lama Beni agak menggerakkan duduknya, biasa ganti posisi, nggak nyaman dengan celana yang sesak, saat kepalanya agak menoleh.....astaga...mama Anna...gawat deh....tengsin. Mamanya hanya melihat Beni dengan wajah datar, tanpa komentar. Beni segera melepas earphonenya, segera dengan panik mengklik tanda x untuk menutup player. Lalu dengan muka menyesal ia segera bicara...

”Ma...a...anu maaf....aduh....pokoknya maafin Beni ma, Beni bisa jelasin...”
”Jelasin apa Ben..? kamu itu ngapain nonton film kayak begitu...?”
”A...anu ma, namanya juga anak lelaki...ingin tahu...”
”Oh gitu...ingin tahu, terus kalau sudah tahu...ingin apa lagi...? Ingin ngerasain...?”
”Ya...ng...nggak lah ma.”

Anna diam sejenak, nampak berpikir sedang bergelut dengan pertentangannya.

”Ben...kamu malam minggu gini memangnya nggak ada kerjaan lain apa, selain nonton gituan...”
”Ya...ada sih ma, Cuma sekarang lagi malas main game atau internet...”
”Ah...internet ya. Mama juga lupa, mau buka situs jorok...? situs yang isinya wanita usia 30an lebih, yang teteknya besar, terus juga baca cerita jorok yang isinya obsesi terhadap mamanya, ibunya, tantenya, begitu kan...?”
”Lho...lho kok...”

Beni seperti kucing kebakaran jenggot, kok mama Anna bisa nembak dia secara tepat. Belum heran keterkejutannya mamanya mulai berbicara lagi, lebih mengejutkannya...”

”Ben...yang jujur ya...kamu sering mengkhayalkan mama kan...?”
”Eng...eh...duh...i...iya.”
”Nah...daripada kamu berkhayal, sekarang kamu wujudkan deh.”
”HAH...?A..apaan ma...?”
”Iya...kamu nggak mau mewujudkan khayalanmu ? Kalau mau, ayo, mama kasih kesempatan.”

Masih heran juga tak percaya Beni dengan ragu – ragu mendekat, tak menyangkalah dia, Beni sendiri sebenarnya sudah siap kalau mama Anna memakinya saat ketahuan nonton film tadi, tapi kok malah jadi begini. Ia mendekat Anna yang sedang duduk...

”Kamu pasti sering membayangkan ini kan...?” Anna menunjuk teteknya. Beni hanya diam.
”Mama tahu kok, film yang kamu tonton juga sama, wanitanya bertetek besar. Lho kok diam, kamu nggak mau merasakannya...?”

Beni diam saja, Anna memegang tangan Beni, mengarahkannya ke teteknya. Tangan Beni agak gemetar saat menyentuhnya. Jauh...jauh lebih besar daripada tetek si Astri. Awalnya Beni hanya memegang dan meremas dengan takut – takut, namun saat dilihatnya Anna hanya diam saja, percaya dirinya mulai timbul, remasannya makin kuat dan lebih berani. Anna mulai memejamkan matanya seekali, mulai merasakan rasa nikmat mengaliri tubuhnya. Kini Beni bahkan sudah berani menggunakan kedua tangannya. Terasa pentil mamanya yang besar dibalik dasternya itu. Kont01nya..... Seingat Beni belum pernah sekeras ini

Lagi asik meremas, mama Anna menyuruhnya berhenti dan menyuruh beni membuka bajunya...semuanya kata mama Anna. Beni menurut saja. Saat ia sudah telanjang mata Anna menatap kont01 Beni dengan kagum....sedikit lebih panjang dari Dedi, tapi tak gemuk. Nah Beni sudah membuka bajunya, biar adil maka Anna segera berdiri, sementara Beni duduk di tepi tempat tidur. Anna mulai menarik dasternya, CD hitamnya terlihat oleh Beni, perutnya dan tetek besar yang menggelantung indah itu, yang pentilnya mengacung sempurna....lalu saat mamanya mengangkat tangan membuka dasternya, Beni melihat rimbunan bulu keteknya yang lebat...astaga....Beni terangsang sekali. Astri tak mempunyai bulu ketek, namun saat ia melihat bulu ketek Anna, sungguh nafsu Beni naik sampai ke ubun – ubun....gila. Kini Anna hanya memakai CD Hitamnya.

Dan terlalu indah rasanya untuk Beni bayangkan....mama Anna mendekat ke arahnya yang sedang duduk di tepi ranjang, mamanya berjongkok di hadapannya, tangannya....oh tangan halus mama Anna mulai menggenggam kont01nya....membelainya dengan enak, memainkan bijinya, mengocoknya perlahan....lalu...astaga lidahnya mulai menjilati kepala kont01nya.......ya ampun...kalau ini mimpi, tolong jangan biarkan aku bangun....tapi ini bukan mimpi. Beni merasakan lidah mamanya mulai menjelajahi batang kont01nya memberikan sensasi kenikmatan pada titik – titik sensitifnya, dan mulut seksi itu mulai menelan kont01nya, mengulum dan menghisapnya....emutannya sangat kuat dan menggairahkan. Beni mendesah lemah....Anna mendongak sesaat matanya bertemu mata Beni....Beni makin bergairah. Benar – benar lewat si Astri pikir Beni mengomentari hisapan maut milik mamanya. Apalagi saat bijinya dihisap dan diemut....oh....sensasinya terasa sampai ke sendi...gilaaaa...Beni merem melek.

Oh apa lagi ini....mama Anna nampak makin mendekat, kont01 Beni diletakkan di antara teteknya, sementara kedua tangannya mengepit dan ditangkupkan di pinggiran teteknya, membuat kont01 Beni terjepit dengan manisnya di belahan tetek besarnya. Beni sangat antusias, dia sering melihat adegan ini di film bokep, sayangnya tetek Astri tak memungkinkan untuk mencoba cara ini. Saking antusiasnya Beni dengan lugunya berucap...

”Ma...tahu juga gaya ini ya...”
”Beni..Beni..., waktu kamu belum bisa jalan saja mama sudah kenal dan ngerti ngewek. Ya pahamlah kalau cuma gaya begini...”

Mau nggak mau Beni nyengir juga menyadari keluguannya. Mamanya juga nyengir. Mama Anna mulai menggoyangkan tetek besarnya itu, mendepetkannya makin menjepit kont01 Beni, saat tetek yang sebelah goyang ke atas, yang sebaliknya ke bawah, begitu terus bergantian, makin lama makin cepat....Aaahhh...Beni mendesah, gila enak banget kont01nya....dijepit tetek yang besar...tiada tara. Makin cepat saja Anna memainkannya, ketika ia melihat anaknya mendesah keenakkan. Beni sampai kelojotan, mati – matian menahan diri....

Akhirnya Anna menyudahi acaranya memainkan kont01 Beni. Ia berdiri, naik ke tempat tidur Beni, berbaring. Beni segera mendekat dan dengan tak sabaran mulai menyerbu teteknya....tangan remaja itu dengan ganas meremasi dengan kuat tetek besar milik mamanya yang sudah lama ia bayangkan. Keras dan kenyal. Mulutnya mulai menghisapi pentilnya yang mengacung itu, dijilati, digoyang – goyang dengan lidahnya, bergantian kiri dan kanan. Beni lalu mengangkat tangan Anna,, penasaran...ia mulai menciumi keteknya yang hitam itu, aromanya sungguh harum dan memberikan sensasi sensual, dengan rakus ia mulai menciumi, menjilatinya...Anna menggelinjang kegelian.

Lalu pada akhirnya Beni menurunkan tubuhnya, menatap selangkangan Anna. CD Hitamnya masih ia kenakan. Nampak tebal mengundang. Sedikit menampakkan jembut yang menyembul di pinggirannya. Jari Beni mulai menggosok CD itu, perlahan lalu mulai cepat. Anna mulai merasakan nikmat, m3meknya mulai basah. Beni menarik pinggiran Cdnya yang menutupi m3meknya, seperti menyempitkannya, lalu menariknya ke atas, membuat CDnya terjepit di antara belahan m3meknya yang kini terlihat jelas. Beni memandangi pinggiran dan permukaan belahan m3mek mamanya yang ditumbuhi jembut itu. Segera Beni menurunkan CD hitam itu, ingin melihat lebih jelas. Terpesona memandang m3mek tebal itu. Di atasnya dengan jembut hitam yang lebat, belahan m3meknya sudah agak mekar, sedikit memperlihatkan isinya yang kemerahan

Beni menunduk mendekatkan kepalanya....awalnya Anna merasa risih, dia memang mau melakukannya, maksudnya langsung saja, kalau Beni harus memainkan m3meknya dia masih sungkan...tapi sudahlah...go ahead, toh aku juga tadi mainin kont01 anak ini. Beni mulai mendekatkan mulutnya...aroma enak memenuhi rongga hidungnya.Mulutnya dengan lembut mulai menciumi jembut mamanya. Sesekali menjilatnya, agak basah jembut Anna kini. Lalu ia mulai menyapukan bibirnya naik turun pada belahan m3mek Anna. Enak sekali...diciuminya dan dijilatinya seluruh permukaan m3mek itu, akhirnya fokus ke daging sebesar kacang yang menonjol itu, lidahnya mulai menjilati dengan ganas, memainkannya dengan semangat it1l tersebut....setelah agak lama jarinya disodokkan ke lobang m3mek mamanya. Lama ia bermain di bawah sana...Oh..No...Desis Anna....gila...Beni....

”Awwww....Bennnnn....”
”Pinteeerr....kammuuuu.....Aiiihhhh......”
”Ogghhhhh.....Yessssss..........”

Anna mengejang...orgasme yang sudah agak lama ia jarang dapatkan. Beni segera menghetikan kegiatannya, menaiki tubuhnya, menindih tubuh Anna, bersiap menyodoknya...

”Ben...kamu bandel juga ya....cara kamu....sudah pernah begituan ya...nakal kamu...”
”Iya...sama teman ma...itu juga pakai kondom...”

Ya...setelah sekarang dia dan mamanya sama – sama bugil, buat apa lagi Beni sungkan atau berbohong..? Tak ada gunanya kan. Beni mulai bersiap, tapi Anna kembali berkata...sedikit ironi...

”Yang...nanti keluarin di dalam saja...toh tak bakalan jadi.”

Beni agak sedih jadinya, tapi hanya sesaat, Beni mulai menurunkan pantatnya....blesss...mantap. Beni diam sebentar...enak. jadi begini rasanya kalau tak pakai kondom...nyamannya pikir Beni.Anna menatap beni yang lagi bengong sebentar menikmati moment emasnya, tak sabaran jadinya, segera menggoyangkan pantatnya...Beni tersadar, mulai bergerak memompakan kont01nya...keluar masuk dengan konstant dalam m3mek mamanya yang terasa masih sempit dan hangat itu. Setiap gerakannya terasa nikmat, kont01nya seakan dibelai oleh cairan yang lembut dan sejuk.

Sementara tetap memompakan kont01nya, mata Beni memandang pada tetek besar mamanya yang selalu membuatnya terangsang itu, tetek itu nampak bergoyang, Beni memepercepat sodokannya, tetek itu bergoyang makin cepat. Nafsuin bangeeet, Beni segera menciumi tetek Anna dengan ganasnya. Sampai kegelian jadinya mamanya, mana hisapan Beni sangat kuat pada pentilnya, Anna mendesah erotis sekali. M3meknya mulai terbiasa dan menikmati kont01 anaknya, makin merasakan nikmatnya setiap sodokan kont01nya.

”AAAhhhh....Teruussss.....”
”Oooohh,,,,Ooohh......Yeesssss...”
”Ughh.....tekeeeenn Beeennnn......”

Anna kembali mengejang dengan kuat, Beni merasakan semburan hangat membasahi kont01nya, orgasme milik mama Anna. Dengan sedikit tergesa Beni mempercepat sodokannya, lalu mencabut kont01nya. Ditariknya tangan mamanya.

Anna segera bangkit, Beni membuat posisinya menungging, lalu Blesss...kont01 beni kembali menerobos m3meknya dari belakang. Bunyi pahanya beradu dengan Beni yang sedang menyodoknya terdengar nyaring di kamar in, menambah tinggi birahi. Beni dengan puas menyaksikan kont01nya keluar masuk, sesekali ia meremas bongkahan pantat mamanya yang sangat montok itu. Dia terus menyodok tanpa kenal lelah. Ditundukkan sedikit badannya, tangannya menjulur, meremasi tetek mamanya. Enak banget sambil nyodokin m3mek mamanya yang nungging, tangannya mainin tetek mamanya....makin nafsu saja Beni, ia menyodok makin kuat dan cepat...Anna benar – benar kelojotan...dan kembali mendapatkan orgasme...ampun dashyat juga anak ini......sementara Beni makin menggila saja, kont01nya menyodok sekuat dan sedalam mungkin...plok....plok...ahhh...desahnya...akhirny a ia merasakan....crooot....croootttt...pejunya memancar dengan kuat dan banyak, membasahi m3mek mama Anna. Terdiam dia, badannya menempel pada punggung mamanya yang sedang nungging itu. Setelah diam agak lama ia mencabut kont01nya yang masih keras.

Anna segera bangun, terasa peju yang mengalir di m3meknya. Baru saja ia mau membersihkannya, Beni sudah menariknya lembut, membaringkannya agak miring, dan Beni berbaring di sampingnya, tanpa banyak bicara mengangkat satu kaki Anna, lalu....ya ampun....langsung lagi ? Kont01 Beni kembali menyodok m3meknya, dan Beni mulai mencumbunya, Anna tanpa ragu membalas ciumannya, panas dan bergelora....Tangan anak itu kembali meremasi teteknya...Anna mendesah, tangannya merangkul kepala Beni, memeperlihatkan keteknya yang lagi – lagi segera habis dilumat oleh Beni. Sodokan kont01nya juga makin kuat, bahkan Anna merasakan kont01 Beni makin membesar saja di dalam m3meknya yang sudah sangat basah itu. Gila...bisa jebol lagi nih.....Anna memandang ke arah bawah, menyaksikan kont01 milik naknya yang sedang menerobos keluar masuk m3meknya yang sudah memerah itu...gairahnya jadi terbakar.....Beni benar – benar merasakan betpa nikmatnya m3mek mamanya ini, tak memperdulikan keringat yang mengalir, makin asik memompakan kont01nya, terkadang desahan suara mamanya terdengar, sangat erotis dan merangsang di telinganya. Dan lagi....mamanya mendapatkan orgasme, mamanya memburu bibirnya, menciuminya dengan kuat, membuat beni kehilangan kontrol sesaat. Beni masih saja memompa, saat ia merasakan bijinya dimainkan dan diremas, gilaaaaa....enak banget makin menambah nikmatnya setiap sodokan yang ia lakukan....oooohhh.....akhirnya batas Beni pun tiba, denyutan itu menandakannya....kembali ia mencium bibir mamanya...kali ini dengan hangat dan lembut....crooot...crooot....selesai. Lemas dan bahagia. Daerah selangkangan mereka berdua sudah basah dan lengket, cairan putih seperti busa nampak menempel di sekitar paha mereka. Beni segera mencabut kont01nya.

Anna terkulai lemas....ampun...kalau Beni meladeninya seperti ini, hasratnya akan selalu terpenuhi, kalau memang harus begini jalannya, ya terjadilah. Tapi tetap aku harus menjaga wibawa Dedi di mata Beni...

”Ben, rahasiakan ini dari papamu ya.”
”Iya ma. Ma, Beni nggak tahu alasan mama membuat kita melakukan ini, tapi yang pasti Beni senang dan setelah ini akan terus meminta mama, mana bisa berhenti lagi. Paling berhenti kalau ada papa.”
”Hehehe...nakal kamu, ingat, jangan nonton film kayak gitu terus, juga jangan buka situs jorok.”
”Kayaknya nggak deh...mana sempat lagi ? Kan nyodokin mama terus hehehe”

Dan dasar anak muda masih kuat, Cuma istirahat sebentar sudah nyodok lagi. Anna hanya bisa tersenyum saja. Dia dan si buah hati kini telah memasuki babak baru dalam kehidupan mereka.

Sebulan kemudian suaminya datang, setelah selesai urusan kerja sama bisnisnya. Dedi baru saja masuk. Beni lagi di kamarnya. Anna menyambutnya seperti biasa, dan melihat wajah Anna juga senyumnya yang lepas, tahulah Dedi...dia sudah melakukannya. Dedi tersenyum saja. Itu sudah jalannya, biarlah Anna juga berhak meraih impiannya. Kehidupan terus berjalan, akhirnya Teti hamil, kini sudah bulan ke 5, Dedi bagaikan di awang – awang, makin jarang datang aja ke Anna, tapi Anna tak pernah mengeluh lagi......Dan memang Anna tak butuh mengeluh lagi, buat apa...selalu ada Beni anak kesayangannya, buah hatinya, juga pelepas dahaganya......
TAMAT

Aku dan Ibu mertuaku

Ketika kerjaku dipindah dr bandung ke jakrta. Istri dan anakku tinggal di bandung.
Tanggung pikirku untuk pindah segera dan smentara aku tinggal bersama mertua yang tinggal berdua. Anak-anaknya sudah pada menikah semuanya.
Setiap senin selasa aku pulang ke bandung.. rabu sampai minggu aku di jakrta tinggal bersama mertua. Bapak mertuaku sudah tua menderita sakit mata akibat diabetes hanya tidur-tiduran aja di kamar.
Sementara ibu, tubuhnya yang agak gemuk.sudah berusia 60 tahun masih segar bugar..
Hari senin aku tidak ke bandung karena paginya aku mengantar bapak mertuaku dengan motor ke tempat alternatif untuk berobat, sedangkan ibu naik ojek.
Sampai disana ternyata bapak harus menginap 3 hari selama berobat.
Akhirnya sore aku bersama ibu pulang naik motor.. diperjalanan dngan motor tanpa ragu tangan kanannya memeluk pinggangku.,, buah dadanya yang besar menempel.dipunggungku, entah ibu pun tau atau sengaja,ntahlah..
Setibanya di rumah,magrib., sementara ibu menutup hordeng dan pintu. aku buka jaket dan celana panjang ,lalu ibu kebelakang buatkan kopi. "Ini A kopinya" katanya sambil menyuguhkan di meja ruang tamu..... "Iya bu makasih" jawabku sambil melirik buahdadanya yang ternyata sudah tanpa bra. Ibu duduk disamping kananku. "Untung AA libur, ibu jadi ada teman..." lirihnya dengan senyum.
Lalu ibu mertuaku cerita, kalau tidak pernah hubungan badan dengan bapak hampir 5 tahun karena sakit diabetes... "Masa sih bu... trus gimana...?" Tanyaku penasaran.. "Ya gimana lagi A.., ibu kan sudah tua, pasrah a...?" Candanya... "Iya sih Bu.. tp ibu sendiri gimana, apa masih ada keinginan...?" "gimana..., orang bapak dah ga bisa Aa..." sambil melirikku... "Tapi ibu masih ingin kan...?" "Yaa laah... ibu masih pengen..." Jawabnya polos... "kalo saya mau gimana bu...?" "Aa..." Ibu mertuaku kaget sambil menatapku Jantungku berdebar keras. Takut ibu marah.. "Maaf bu.." Kataku.. "Ga apa-apa A, ibu ga sangka aja" manjanya.
Aku tersenyum dan saling menatap...ku beranikan mendekatkan muka didekat muka ibu sejenak sambil menatap ibu.. ibu mertuaku terdiam.... perlahan kumiringkan kepala dan mmmmmmmmmmm...kucium bibirnya dengan lembut..lalu kulepas... Ibu mertuaku tidak ada reaksi... kembali ku cium bibirnya.... ternyata ibu membalas ciumanku... Jam sudah menunjukan pukul 8 malam.. Kugenggam tangan ibu dan ibu diam.. terus kucium bibirnya dan membalas dengan menjulurkan lidahnya.. ku emut lidahnya.. aahh.. membuat birahiku naik... Lidahku kumasukkan ke mulutnya... dikulumnya dan nafasnya terasa mulai sesak... Ibu melepaskan ciuman dan memelukku dengan erat. "Aa..." "Yaa bu..." aku pun memeluk dengan erat, terasa buahdadanya yang besar didadaku... "Maafkan aku bu" bisikku. "Jangan bilang siapa-siapa ya A" bisiknya. "Iya bu" jawab ku.
Kucium kuping ibu terus sampai kepipi..kebibir dan pelukannya semakin erat memelukku.. Kusenderkan tubuh ibu disandaran sofa, kulumat bibir ibu mertuaku...lidahnya yang basah dengan ludahnya ku isap-isap...aroma mulutnya membuat aku nafsu...tangan kiriku memegang perut ibu lalu kuusap-usap.. perlahan tanganku masuk kedalam bajunya...naik ke buahdadanya yang besar, kuremas pelan-pelan sambil ku mainkan putingnya yang keras.. Tangan ibu mertuaku membantu membuka kaosnya pelan-pelan dan langsung ku hisap buahdada ibu... "Aaaahhh...sssszzzz." Ibu mendesah ditelingaku. Aku terus mainkan puting buahdada ibu dengan lidah.. Tanganku perlahan memegang paha ibu, kuremas-remas pahanya..terdengar nafas ibu ditelingaku. Aku tidak tahan lagi, pelan-pelan tanganku masuk kedalam rok ibu... ku sentuh gunungan Vaginanya.. kuusap-usap dengan telunjukku... "Emph..." Ibu melebarkan pahanya...terasa basah di CD ibu... aku beranikan meraba dari dalam... ibu menggoyang pinggulnya kebelakang.. sambil meraih kepalaku dan mencium bibirku dengan liar... lidahku dihisap-isapnya.. Ooohh betapa nafsunya kurasakan ibu... "Ibu mau pegang punya aku ?" Tanpa mejawab tangan ibu meraba pahaku mencari punyaku.. dimasukkan tangannya dan...aaahh ibu meremas-remas kontolku... dibuatnya aku tambah nafsu... Kurebahkan ibu disofa..payudara dan Cd nya kulepas.. emmmph... perlahan kepalaku kebawah paha....Vaginanya yang dihiasi bulu-bulu hitam tebal lembut... langsung kujilati... ssssluuurpp.. elleummm... baunya dan lendir memek ibu terasa nikmat bagiku.. ibu melebarkan selangkangannya dan lidahku menjilati memeknya... "Ooooohhh...uffhpp...AA...enak banget aaaa..." Sambil meremas-remas kepalaku dengan kedua tangannya... Aku terus mencium, jilat-jilatin memek ibu mertuaku... lendir yang basah ku hisap dan kutelan... paha ibu mulai naik turun... "Aa.....aahh.." Ibu menahan nafas dan... lendirnya keluar banyak sekali... "ibu keluar aa..." "Iyaa..nggapapa bu..." "Ayoo keluarin bu..." Pintaku sambil terus kusedot lendirnya dan kutelan... "Aaaahh...uuugghh...ooooohhhh...Aa...enak banget A..." Ibu tersenyum puas. Ku lihat ibu lemas...aku masih menjilati memeknya yang basah... "Udah a, ibu lemas..." Katanya sambil membelai kepalaku yang masih terus jilatin memeknya.. Aku pun tersenyum.. "Makasih ya A.. tp Aa gimana ? Belum keluar sayang...?" Manjanya.. Aah aku dipanggil sayang... "Aa mau keluarin juga...?" Ibu mertua ku bangun dan duduk di sofa..aku diminta berdiri dihadapannya...sambil meremas-remas kontolku... diarahkannya kontolku ke mulut ibu...pelan-pelan ibu mertua ku mencium.. menjilat kepala kontolku... " Azzzzzhh...ooooohhh...." Aku mendesah... Tanpa ragu lg..pelan-pelan kontolku masuk dimulutnya...blesss...enaknya jauh dibandingkan istriku... terasa diurat-urat ku sentuhan lidahnya... makin lama makin cepat keluar masuk kontolku dikocok dimulutnya... "Aaaahhh..." Aku ga kuat nahan nikmatnya...kupegang kepala ibu mertuaku... "Cukup bu...cukup.." Kataku... "Kenapa A..." Tanya ibu.. "Aku pengen yang dibawah..boleh..?" Kataku sambil melirik vagina ibu.. Tanpa jawaban.. ibu langsung berbaring dan membuka melebarkan kedua kakinya... kulihat gundukan vaginanya yang indah.... Ku naik dibadan ibu mertuaku... Pelan-pelan ku masukkan kontolku.. Bleesssss...terasa hangat dan licin...kuangkat dan kukocok pelan kontolku dimemeknya... Aaaaahhh.... "Ibu pasrah a.." Tatap ibu... Ibu merangkul pinggangku..aku smakin cepat naik turun kocokanku... Payudaranya goyang-goyang sesekali kuremas...lalu kuciumi...matanya kulihat menatapku dgn senyum dibibirnya... "Ga capek a.." "Ga bu...." Terus kukocok kontolku masuk divaginanya... "Bu...aku mau kluar...didalam apa diluar..." Tanyaku.. "Didalam aja A... ayooo...keluarin A.." Dan...aaaaaahhh...crreeettt crreeettt....crreeett....ndut-ndutan kontolku keluar.... "Haaaa.. .." Kutekan kontolku dalam-dalam ke memek ibu... spermaku masuk diliang memek ibu.
Ibu tersenyum dan memelukku... Ku peluk ibu mertuaku dan kukecup pipinya..kucium mesra bibir ibu.... ku bsikkan..."aku sayang ibu...." "Ibu juga sayang Aa" bisiknya sambil memeluk erat aku...
Dengan masih keadaan sama-sama telanjang, aku ajak ibu untuk tidur di kamar... aku kunci kamar...
"kita tidur telanjang yaa...Bu" Pintaku... "Iyaa Aa tapi jangan dilepas kontolny Aa..., sini peluk ibu..." Akhirnya ibu tertidur... dan kucabut kontolku...
TAMAT

Kamis, 10 April 2014

Nek Bilah

Kami baru saja pindahke kawasan itu.
Kasawan perumahan yang segala sesuatunya serba sendiri-sendiri. Tak seorang mau mengusik yang lain. Saat aku bersama dua orang buruh mengangkati barang-barang rumah kami, tiba-tiba seorang perempuan setengah baya datang menghampiri dan menegur ayah-ibuku. SEbagai tetangga baru, tentu ayah dan ibu sangat ramah kepada perempuan itu. Akhhirnya aku memangilnya nenek. Nek Bilah, begitu panggilankami. Dia seoprang janda berana empat, kesemuan anak-anaknya sudh berumah tangga. Itu sebabnya dia kami panggil nenek. Anak-anaknya jauh di kota lain. Itu pula sebenya dia mendekatkan diri kepada kami, agar kami tetangganya adalah saudara terdekatnya. Bila ada apa-apa pada si nenek, kami tetangga yang lebih dulu menolongnya. Aku suka menolongnya menyirami bunga-bunga yang banyak sekali di halaman rumahnya. Anggrek berwarna-warni dengan berbagai jenis. Demikian pula tanaman lainnya. Ibu dan ayahku pun senang melihatku menolongi si nenek yang selalu makai daster di rumah. Umurnya 63 tahun. Tubuhnya masih sehat dan kelihata segar bila dibandingkan dengan teman-temannya sebaya. Setiap dia menggoreng singkong atau membuat kue-kue apa saja, orang yang pertama yang diberikannya adalah aku. Dia tak segan-segan memanggil namaku, kemudian menyerahkan sepiring kue masakannya untk kami cicipi sekeluarga. Ayah dan ibu pun bila membeli kue dari pasar, selalu memberinya, bahkan oleh-oleh setiap kali ibu dan ayahku ke luar kota. Aku sering kali tidur-tiduran pada gazebo mungilnya di samping rumah sembari membaca buku-bukukuliahku. Biasanya, aku jugamembawa laptop ke gazebo itu. Sore itu, Nek Bilah baru saja usai mandi. Terpancar dari aroma sabun di tubuhnya. Aku masih tiduran di gaezebonya. Terkadang aku hanya melompat pagar saja, kalau aku malas masuk dari gerbangnya. Biasanya si nenek tertawa saja, dan ibuku hanya bilang, hati-hati melompat, nanti terkilir. Kali ini aku sengaja tiduran pakai kain sarung saja dan kaos oblong. Nek Bilah datang. Dia memijiti betisku pakai vaseline. "Enak nek, terus dong?" kataku. Ibuku malah nyeletuk dari seberang pagar.
"Enak aja nyuruh orang tua. Kuwalat baru tahu?" kata ibuku.
"Ya..gak apapalah" Seru nenek menimpali dan meneruskan pijatannya. Nenek memijat betisku dengan seksama. AKu menimatinya. Saat tangannya sampai ke pahaku, aku baru ingat kalau aku tidak memakai celana dalam. Kubiarkan saja, toh, nenek hanya memijat sampai betis saja, pikirku. Nenek menyingkap sarungku, katanya biar leluasa. Nyatanya, nenek menyingkapnya terlalu tingi sampai ke pantatku. Mungkin nenek mengira aku pakai celana dalam.
"Waaaooowww... besar juga punyamu," kata nenek sembari mengelus penisku. Tak kusangka, nenek begitu berani mengelus penisku.
"Emangnya kenapa nek?" kataku.
"Apa sudah pernah dimandiin?"
"Setiap hari ya dimandiin nek" kataku.
"Maksud nenek dimandiin yang lain, Mandi enak..." katanya genit.
"Oh... belum, Apa nenek mau memandiinnya?" kataku nakal pula.
"Ikh... kamu, kok mau sama nenek-nenek..." katanya.
"Nenek dan gadis sama saja. Yang pentingkan rasanya," aku menimpali semakin berani.
Nek Bilah diam. Kontolku terus dielusnya pakai vaseline. Tentu saja semakin keras.
 "Sudah, sekarang terlentang," katanya. Aku mengikutinya dan menelentangkan diriku.
Nek Bilah kembali memijat pahaku.
Gazebonya memang terlindungi oleh pohon-pohon bunga.
Jika tak diperhatikan betul-betul dan dengan sunguh-sungguh, tak seorang pun yang tahu, kalau di gazbo itu ada manusia. Termasuk dari rumahku sendiri. Itu pula menyebabkan aku menyenangi gazebo itu tempatku belajar dan mengetik kuliahku di laptopku. Nek Bilah menyingkap kain sarungku sampai ke pusat dan jelas-jelas kontolku beridir dalam elusannya terlihat jelas.
"Enak?" Nek Bilang bertanya setengah berbisik. Aku mengangguk. Kulihat Nek Bilah melepaskan celana dalamnya. Setelah matanya celingak-celinguk ke kiri dan kanan, depan dan belakang, dia menaiki tubuhku dan mengangkangiku. Aku diam saja. Diangkatnya dasternya dan dituntunnya kontolku memasuki lubang memeknya. Sebelumnya dia lumuri vaseline dulu di bibir memeknya. Setelah ujung kontolku kena persis di antara kedua bibir memeknya, dia menekan tubuhnya dari atas, lalu melesatlah kontolku ke dalam memeknya. Terasa hangat di dalam lubang memek nek Bilah. Untuk pertama kali kontolku mengeram dilubang nikmat. Nek Bilah seakan mengurut dadaku. Pintar betul nenek ini bersandiwara memerankan seperti tukan pijat, bisik hatiku. Pantatnya yang besar memenuhi pahaku. Aku memejamkan mataku. Goyangannya semakin menjadi-jadi dan semain cepat. AKu merasa nikmat bukan kepalang.
"Kontolmu memang besar dan panjang. Keras lagi," kata Nek Bilang to the point.
Dia tidak memilah kata lagi. Mulutnya mulai cakap kotor. Kontol bagus, katanya setengah berbisik. AKu tak mau kalah. MEmek nenek juga enak, walau sudah tua. Goyangan nenek juga hebat. Kapan saja nenek mau kontolku, nenek boleh kode aku, kataku. Dia tersenyum. Aku kenikmatan dan aku tak mampu berbuat apa-apa selain mendiamkan saja goyangannya. Tiba-tiba croot...crooot...croooooottttt. Sepermaku muncrat memenuhi lubang Nek Bilah. Dia semakin mempercapat goyangannya dan menindihku kuat-kuat dan menicum leherku. Nenek juga sampai.... katanya. Sejak itu, atas sarannya, jika aku mau ke gazebo, tidak boleh pakai celana tapi harus pakai sarung dan tanpa celana dalam. Aku setuju. Sepulang kuliah dan siap makan siang aku dan menggati pakaianku dengan sarung. Kulihat Nek Bilah sembunyi memberi kode dari gazebonya. Aku ambil laptop dan menyeberang.
"Ini, kasi kue ini pada ennekmu," kata ibuku.
"Aku lihat tadi Nenek naik beca keluar. Tapi, nanti kalau pulang keberikan," kataku berbohong pada ibuku. Aku membawa sebungkus kue untuk nek Bilah. Begitu aku masuk ke halaman rumahnya, kulihat nek Sumi merangkak menuju gazebonya. Aku geli melihatnya, nenek-nenek masih merangkak kaya kucing berjalan memekai kedua kaki dan kedua tangannya agar tubuhnya rendah dan tak kelihatan. Nek Bilah sudah pula menambah berbagai tanaman mengelilingi gazebo, hingga gazebo semakin rindang dan susah untuk dilihat.
Begitu aku sampai di gazebo, nek Bilah langsung merebahkan tubuhku dan tubuhnya juga tergeletak di sampingku. Dilumurinya kontolku pakai vaselin agar licin dan dia juga melumuri kontolnya pakai vaselin.
Maksudnya agar cepat kontolku memasuki lubangnya. Karena lubangnya sudah kering dan sudah menapouse, vaselin sangat membantu. Setelah kontolku keras, dia minta aku menindihnya. AKu menyucukkan kontolku ke vaginanya.
"Mau yang lebih enak?" bisiknya padaku. AKu mengangguk.
Dia meminta aku mencabut kontolku dari memeknya. Dia mengambil lagi Vaselin dan melumurinya.
Lalu dituntunnya kontolku. "Tekan" katanya. AKu menekan kontolku. Kok sempit sekali. Ternyata kontolku dituntun ke lubang anusnya. Kutekan kuat-kuat secara perlahan, akhirnya kontolku jepit oleh anusnya.
Wah... nikmat sekali.
Sejak itu, aku lebih sering meminta lubang anus ketimbang lubang memeknya. Akhirnya ada kesepakatan. Setiap selasa, jatrahku lubang memek dan setiap jumat jatahku lubang anus. Terkadang aku yang horny. Jika demikian, aku langsung ke rumah nenek dan sebelumnya aku sudah lebih dulu mengirimkan SMS agar dia siap-siap.
Walau bukan selasa atau jumat. Mungkin rabu atau kamis atau hari apa saja.
Nek Bilah langsung membuka celana dalamnya dan melumuri lubang anus dan memeknya.
Terserah aku memilihnya mana. Tapi biasanya kalau sudah aku pesan melalui SMS, jatahku adalah lubang memek.
Nek Bilah yang lihat dan pandai bermain sandiwara. Ternyata dia seorang aktris.
Tamat

Nenek Julia

Aku meminum ramuan yang diberikan Nek Julia. Pahit sekali rasanya. Aku dipaksa meminumnyua, dengan dibantu oleh suaminya yang aku panggil Pak Joseph.
Aku terus menggigil.
Menurut Nek Julia, untung lebih cepat ketahuan. Kalau tidak aku bisa mati, setidaknya gila.
Ini masih bisa tertolong, kata mereka juga.
Setelah lulus kuliah, aku ditempatkan di sebuah desa di Kalimantan. Sebuah perkampungan yang jauh dari keramaian. Kampung dikelilingi oleh hutan lebat.
Aku terserang malaria. Mulanya aku merasa demam biasa. Ternyata malaria tropikana.
Sebagai ahli penyuluhan, aku mengajari mereka bagaimana bertanam pohon rotan dan pembibitannya. Tidak menebang sembarangan, lalu dibiarkan demikian saja. Rotan akan cepat habis.
Pak Josph adalah kepala suku di desa itu, dan Nek Julia adalah seorang berpengatuhan pengobatan supranatural dan pengobatan ramu-ramuan.
Setelah meminum ramuan itu, aku diselimuti kemudian dikeloni oleh Nek Julia yang berumur 62 tahun dan memiliki 11 cucu.
Aku segan kepada suaminya. Tapi justru suaminya mengatakan, biar tak menggigil lagi.
Tak lama, tengkukku dipijat kuat, betis dan pinggangku, tentu saja dengan minyak pijat ramuannya.
Satu jam kemudian, rasa dingin dan gigilku berangsur tenang. Aku disuapi dengan nasi bubur, Aku makan lahap sekali, karena udah tiga hari tak makan.
Kata Nek Julia, nanti kalau aku sudah sembuh, aku harus membayar syaratnya. Aku siap, syarat apapun akan kubayar, asalkan aku sembuh, Aku sudah tak tahan, kataku.
Aku tertidur, Pukul 14.00, aku dibangunkan lalu aku dipijat lagi, Aku menjerit-jerit dipijat nenek tua itu. Orang desa mendengar jeritanku, Tapi mereka tak berani masuk, Sudah menjadi kebiasaan, kalau Nek Julia mengobati pasiennya, dia cukup meletakkan selendang merahnya di tanga atau dimana saja, orang tak berani lagi masuk. Itu salah satu syarat dia. Lalau aku diberi minuman ramuan yang pahit itu lagi, kalau tidak untuk sembuh, aku tak mungkin meminumnya. Dua hari kemudian, aku segar. Nek Julia meminta aku berjemur dimatahari pagi selama 1 jam sampai aku berkeringat. Lalu daku dibawanya ke rumah. Disuruhnya aku hanya memakai sarung saja untuk dipijat. Dia memijatku mulai dari ujung jari kakiku sampai ke kepalaku. Aku benar-benar menjerit. Tiba-tiba suaminya datang dan berteriak dari luar, mengatakan dia mau ke hutan mengambil rotan. Nek julia kembali memijat pahaku dan membuka celana dalamku. Katanya harus semua dipijat. Aku terserah saja. Aku telentang dan Nek Julia mengurut kemaluanku. Disentakkannya kemaluan dengan tiba-tiba dan aku menjerit kesakitan.
"Sabar. Kemaluan seperti ini, tidak bagus. Harus besar dan panjang," katanya.
 Setelah rasa sakitnya menghilang, tiba-tiba Nek JUlia memulas kemaluanku dengan kuat ke kanan dan kekiri. Kembali aku menjerit. Warga desa yang mendengar jeritanku hanya tertawa terbahak-bahak, karean merkea usdah terbias amendengar orang menjerit ketika dipijat. Nek Julia mengluarkan pucuk rotan muda yang sudah bersih dari dalam tas rajutan (khas Dayak)-nya. Dia lumuri dengan minyak pijat lalu dibacakan mantera. Rotan muda itu dipukulkan ke kemaluanku. Aku kesakitan. Ada lima kali pukulan itu, dan sebanyak itu pula aku menjerit. Aku merasa kemaluan membesar dan memanjang.
"Sudah cukup sebesar dan sepanjang ini?" tanya Nek Julia. Waaaooowww...betapa besar dan panjangnya kemalauanku. Tiga kali ukuran biasanya.
"Sudah!" kataku cepat.
 "Kamu harus bayar syaratnya," kata Nek Julia padaku.
 "Berapa aku harus bayar, Nek?"
 "Tidak pakai uang."
 "lalu?" Dinaikkannya kain sarungku ke perutku, hingga dari pusat ke bawah, aku bertelanjang. Nek Julia menaiki tubuhku., kedua kakinya mengangkang di antara kedua kakiku, dia menaikkan sarungnya pula. Perlahan kemaluanku dituntunnya memasuki memeknya. Perlahan dan terus dia menekan tubuhnya, sampai kemaluanku memenuhi liang memeknya. Aku melihat ke pintu yang masih terbuka. "Jangan takut, Orang tak berani masuk," katanya yakin. Nikmat sekali rasanya, Semua batangku sudah terletan dalam memeknya dan terasa kemaluanku seperti dipijat-pijat di dalam. Tak lama, aku memuntahkan spermaku. Nek JUlia terus memutar-mutar pingulnya dan matanya terpejam. Anehnya, kemaluanku terus tegang mengeras, Tidak ada tanda-tanda melemas. Nek JUlia terus memutar-mutar kemaluanku dalam memeknya itu, Sampai akhirnya Nek Julia memelukku kuat dan merebahkan tubuhnya di atas tubuhku. Nek Julia mendesah dan mengatakan dia sudah sampai. Setelah itu ditiupnya dahuku, dan kemaluanku perlahan-lahan memelah dan keluar dengan sendirinya dari memek Nek Julia.
Nek Julia mampu menyetel kemalauanku tegang beberapa kali orgasme tak mati-mati.
Dia akan mati, kalau Nek Julia sudah orgasme dengan meniup keningku tiga kali.
Dia membersihkan kemaluianku dan aku pipis ke kamar mandi.
Aku disuruhnya tidur dan aku tertidur nyenyak. Sore pukul 16.00, aku dibangunkannya.
 Aku disuruh makan nasi dengan lauknya kancil yang baru diburu oleh Pak Josph.
Aku makan lahap sekali. Masakannya enak. Selesai makan, aku disuruh duduk di kursi.
 Nek Julia mengangkakngkan kedua kakiku dan meletakkan kedua kakiku di pundaknya.
Sarungku di singkapnya dan dia menjilati kemaluanku. Aku melihat betapa gagahnya kemaluanku. Aku bangga dengan kemalauan seperti itu Ketika dia menjilati kemaluanku, ujung jempol kakiku dimasukkannya ke dalam memeknya dan digoyang-goyangnya.
Buah pelirku di genggamnya pakai tangan kirinya. Kemaluanku dia lahap dengan buas dan rakus. Lama sekali aku merasakan nikmat. Ada 35 menit, spermaku belum juga keluar.
"Kok belum keluar juga Nek?" tanyaku.
"Aku yang menentukan keluar atau tidak," katanya.
 "Tunggu puas dulu," katanya. Dalam hatiku, terserahlah. Yang penting aku merasakan terus melayang-layang dan nimmat disiapi dan dijilati seperti itu. Nek Julia ahli sekali menjilati kemaluanku. Aku dapat merasakan, telapak kaki bagian luar sudah dibasahi oleh lendir. Aku heran, kenapa Nek Julia setua ini, masih juga punya nafsu yang kuat.
Nek Julia melepaskan genggamannya pada buah pelirku. Kini dia menjilatinya dengan lembut dan aku berada di puncak kenikmatan. Aku menyemburkan spermaku beberapa kali di mulutnya. Aku mendengar Nek Julia menelan spermaku dengan puas.
 "Bagaimana, enak?"
"Enak sekali nek." Direngkuhnya aku ke lantai beralaskan tikar. Kami istirahat dan berpelukan. Nikmat sekali memeluk nenek di tengah hutan ini.
 "Apakah nenek selalu melakukan ini kepada pasien nenek?"
 "Tidak, Hanya  bersama pasien yang aku lakukan begitui, itu karena aku menyukainya," kata Nek Julia. Semuanya adalah laki-laki muda yang dia sukai dan dia cintai.
"Bagaimana dengan Pak Josph Nek?"
"Dia tidak tahu. Makanya pandai-pandai menjaga rahasia," Tegasnya. Aku mengangguk.
"Tapi kalau ketahuan orang lain atau suami nenek bagaimana?" tanyaku.
"Mereka tak berani berbuat apa-apa. AKu katakan, ini adalah cara pengobatanku. Jadi mereka tidak percaya, ini atas kehendakku, tapi atas kehendak orang halus yang mengikut aku. Lagi pula mana ada orang percaya aku mau bersetubuh, kan aku sudah tua. Tapi mereka percaya, kalau roh yang mengikut aku adalah gaids muda dan cantik," jelas Nek Julia.
Aku menganguk kagum.
Tiga tahun, aku da Nek Julia terus melakukan hal itu, di setiap ada kesempatan.
Kalau aku mau menyetubuhinya, aku katakan kepada Pak Josep, agar Nek Julia datang ke rumah, aku mau dipijat.
Malam atau sorenya, pasti Nek Julia datang ke rumahku.
 Tamat

Nenek Pembatuku

Ini adalah ceritaku saat pertama kali mengenal sex dan berhubungan dengan wanita, kebetulan wanita tersebut berusia jauh lebih tua dari usiaku bahkan dari usia ibuku. Karena pengalaman pertama kali mendapat kenikmatan hubungan seksual dengan wanita berumur telah membentuk aku menjadi laki-laki yang Oedipus complex atau menyukai wanita yang berusia jauh diatas aku. Kisah selengkapnya berikut ini….
Saat itu aku berusia sekitar 14-15 tahun dan duduk di bangku SMP di akhir dekade 80’an (ah jadi ketauan kalau aku sekarang udah tuir), o iya perkenalkan namaku Anto (samaran) tinggal di komplek perumahan di pinggiran Jakarta. Aku adalah anak tunggal, sedangkan kedua orang tuaku bekerja di Jakarta.
Sehari-hari aku ditemani tukang cuci atau pembantu yang pulang hari bernama Mak Acah berperawakan tinggi semampai sepasang buah dadanya pun besar dan terlihat masih montok.
Kutaksir usianya sekitar 59-60an, seorang janda yang memiliki satu orang anak perempuan bernama mpok Marni yang juga sudah memiliki anak perempuan yang usianya dua tahun diatas aku dari perkawinannya dengan bang Uci sopir Bajaj di Tenabang. Berawal dari kebiasaan menonton film porno sepulang di rumah sahabatku Panji membuat aku seringkali menuntaskan dengan beronani sesampainya dirumah. Siang itu sepulang sekolah dan menonton film porno aku tergesa-gesa pulang ke rumah dengan maksud hendak segera menuntaskan hasrat seksualku dengan onani. Kudapati mak Acah sedang mencuci baju kami di kamar mandi (kebetulan kami hanya memiliki satu kamar mandi). Aku merasa tidak sabar jika harus menunggu mak Acah selesai mencuci, maka aku pura-pura mau buang air supaya mak Acah keluar dahulu dari kamar mandi. Akupun segera menuntaskan hasratku dengan onani sambil melihat kartu remi bergambar wanita telanjang, setelah hajatku tuntas mak Acah kembali masuk ke kamar mandi untuk menyelesaikan mencuci baju. Aku sedang mendengarkan radio saat mak Acah masuk ke kamarku lalu duduk di tempat tidurku sambil berkata
MA:“Anto kamu tadi ngocok di kamar mandi ya ?”. Aku kaget dan malu mendapat petanyaan yang tiba-tiba seperti itu.
Aku: ..eng.. iya mak, kok emak tau ? (sambil mukaku merah karena malu).
MA: iya orang pejuh kamu tadi masih licin di kamar mandi. Mak perahatiin kamu kalau pulang sekolah mesti neloco, ngga bagus tau…. Bisa ngerusk mata kamu.
Aku: masa sih mak ? (penuh rasa ingin tahu dan ketakutan).  
MA: ngeloco itu ngeluarin pejuh yang dipaksa’in, pas kamu keluar pasti kamu merem. Itu yang bikin nanti mata kamu rusak. (..waduh bener juga nih dalam hati, padahal itu cuma tipu2 dia aja…).  
Aku: masa sih mak ?  
MA: masa, masa, kalo dibilangin (dengan logat betawi kentalnya), kalo mau ngeluarin pejuh entu kudu bari megang atawa ngeliat punyanya perempuan To…., sini emak ajarin kamu….
(sambil nyuruh aku duduk di tempat tidur). Aku hanya pasrah karena malu, takut dan rasa ingin tahu campur aduk jadi satu. Setelah aku duduk dan membuka celana pendek biruku, mak Acah menyodorkan teteknya yang besar kemukaku sambil tangannya mengelus-ngelus si otong.  
MA: ..pegang…., terus isep tetek emak, nih pegang juga memek emak ya.
Akupun menuruti perintahnya dengan hati girang karena baru kali itu melihat dan meraba langsung organ intim wanita. Dalam hitungan detik si otong yang belum lama baru lemes sudah tegang lagi saking senengnya.
"Iyaa… maenin pentil emak pake lidah kamu, terus colok-colok memek emak…" katanya.
Sekitar 3 menit memainkan memek dan teteknya, Mak Acah menyuruh aku tiduran.  
MA: kamu tiduran deh punya kamu udah keras banget, emak ajarin cara yang bener ngeluarin pejuhnya..
Akupun menuruti saja apa yang diperintahkannya sambil tidak lama mak Acah menduduki kemaluan dengan terlebih dahulu memasukan kemaluan remajaku yang tidak seberapa besar (maklum, saat itu aku masih ABG).
Rasanya nikmat bagai di awang-awang, jauh lebih licin dan hangat ketimbang kalau aku onani dengan menggunakan sabun. Sekitar sepuluh kali mak Acah naik turun diatas kontolku, kontolkupun muntah. Maklum saja ini adalah pengalaman pertamaku. Mak Acah segera mengelap kontolku dari sisa lendir sperma yang bercampur cairan kemauannya dengan celana dalam yang rupanya sudah sedari tadi dikantungi di saku daster lusuhnya.
“Enak kan ?” ujarnya.
"Iya mak", jawabku.
Besok-besok lagi kalau kamu pengen mending ngomong aja sama emak, biar emak bantuin ya…
Aku pun mengangguk sambil bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan dari lendir yang masih terasa lengket di sekitar kemaluannku.
Beres menuntaskan hasrat, aku tertidur karena lemas akibat dua kali mengeluarkan sperma dalam waktu tidak lebih dari setengah jam.
Ada perasaan lega, puas dan penyesalan yang amat sangat karena aku sadar telah melakukan perbuatan tersebut.
Mak Acah melanjutkan membereskan rumah dan memasak untuk makan malam keluarga kami.
Esoknya, sepulang sekolah sengaja aku tidak mampir untuk menonton film porno di rumah Panji.
Pikirku aku tidak mau mengulangi pebuatan dosa yang teramat besar seperti hari kemarinnya.
Di rumah aku melihat Mak Acah sedang memcuci baju, sedangkan aku segera tidur setelah sebelumya makan dan mengganti baju putihku dengan kaus.
Hari ini tidak terjadi apa-apa, syukurlah dalam hatiku. Hari berikutnya (kebetulan hari Jum’at), aku tidak dapat menghilangkan keinginank untuk bisa berhubungan kembali dengan Mak Acah.
Di sekolahpun sulit sekali aku berkonsentrasi dari membayangkan tetek besar mak Acah dan memek tuanya yang rimbun. Aku berniat ingin segera tiba di rumah. Segera setelah jam belajar berakhir aku pulang dan kudapati rumahku masih terkunci. Memang biasanya Mak Acah datang ke rumahku sekitar pukul satu siang. Aku urung masuk tapi berbalik ke rumah Mak Acah yang jaraknya kurang lebih 200 meter dari kediamanku dengan alasan pinjam kunci, aku bilang kunciku lupa tertinggal di dalam rumah. Setelah aku bicara setengah berbisik rupanya Mak Acah mengerti kalau aku sedang kebelet ingin berhubungan badan, sambil memberikan kunci rumah yang biasa dipegangnya,
dia bilang: “ ya udah nih kucinya emak juga sebentar lagi ke sono, nyelesein goreng kerupuk dulu ya…”. Aku menanti dengan gelisah kedatangan Mak Acah. Tak lama berselang Mak Acahpun datang sambil tak lupa menguci pintu depan rumah kami.
"Udah ngebet ya To ?" tanyanya, aku mengiyakan sambil menarik mak Acah ke dalam kamar.
Hari ini penampilan Mak Acah tidak seperti biasanya, ada harum deodoran murahan di tubuhnya. Setelah aku periksa, BH dan celana dalamnyapun tidak lagi lusuh dan dekil seperti kemarin. Akupun semakin terangsang untuk segera membuka BH dan menyusu di teteknya yang besar.
"Sekarang jangan keburu-buru kaya kemaren To" ujarnya.
Aku mengangguk sekedar mengiyakan sambil tanganku sibuk ngobel-ngobel memeknya yang masih terbungkus CD.
"Hari ini emak mau ngajarin yang laen, kontol kamu pernah diisep ngga?" Tanya mak Acah.
"Kayak di filem Be-Ef ya Mak ?" kataku balik bertanya.
Mak Acah tidak menjawab, namun tangannya sibuk membuka baju seragamku hingga aku bugil.
Sesaat kemudian kurasakan kontolku yang memang sudah ngaceng sedari tadi dihisap dan dikulum oleh bibirnya. Sensasinya jauh lebih nikmat ketimbang hari kemarin, aku hanya dapat mematung merasakan permainan lidah dan bibirnya yang menghisap kemaluanku. Tak berapa lama spermaku keluar diiringi desahan nikmat dari bibirku. Mak Acah dengan telaten terus menghisap dan menjilat helm nazi si otong. Air maniku memenuhi rongga mulutnya, sebagian mungkin tertelan dan sebagian lagi dilapnya dengan seragam putihku yang berserakan di lantai. Akupun terduduk puas dan lemas tak terkirakan.
"Tuh kan, kamu buru-buru banget" ujarnya.
"Udah kebelet mak" jawabku sekenanya.
"Ya udah kamu ganti baju terus makan, emak mau ngerendemin baju kotor. Entar kalau kamu udah kepingin lagi baru kita ngewe pungkasnya".
Selesai makan dan istirahat sejenak di kamar rupanya si otong udah kepingin lagi, kupanggil si emak yang saat itu sedang menyapu teras depan. "Mak sini mak, udah kepingin lagi nih…ucapku,
 "Ah cucu emak, emang kamu ngga Jum’atan ?" tanyanya.
Aku menggeleng sambil menarik si emak untuk direbahkan diatas tempat tidur.
"Jangan-buru-buru To… emak juga kudu dipuasin" ujarnya.
Aku: "dipuasin bagemana mak ?"
MA: "…nih emak ajarin…" Sambil meloloskan celana dalamnya dalam posisi terlentang diatas tempat tidurku.  
MA: "emak tadi udah jilatinpunya kamu, sekarang giliran kamu jilatin memek emak ya…"
Berbekal pengalaman menonton BF dan arah si emak aku menuruti perintahnya. Mula-mula Cuma kupegang dan kucolok saja memek mak Acah, namun mak Acah memintaku untuk menjilati tonjolan daging kecl dan jengger ayam disekililng memeknya. Aku menurut, ada bau khas yang baru kali ini aku rasakan bercampur dengan wangi sabun mandi (rupanya si emak sudah mencuci bersih terlebih dahulu memeknya). Lama-lama aku terbiasa dengan aroma yang kucium dan terasa memek si emak makin basah oleh ludahku bercampur cairan kental khas organ intim wanita.
Aku hanya mengikuti apa yang diperintahkan si emak dengan diselingi desahan mesumnya. Kurang lebih lima menit tubuh si emak mengejang sambil tengannya mendekap kepalaku agar tetap menempel di memeknya. Rupanya si emak sudah orgasme, saat itu aku belum mengerti.
Sejurus kemudian emak meraih kontolku yang sudah mulai mengeras kembali.
Dengan telaten dia menciumi dan mengulum kontolku hingga betul-betul terasa keras.
Setelah dirasa tegang, emak mengarahkan kontolku kememeknya sambil memerintahkan aku untuk bergerak maju mudur.
Nikmatnya benar-benar sensasional walau terasa betul kalau memek si emak becek oleh lendir sisa dia orgasme.
Kali ini permainanku cukup lama hingga cukup memuaskan si emak dengan kembali orgasme berbarengan dengan mucratnya lahar panas dari kontolku.
Kami menyudahi permainan ini dengan sama-sama puas, akupun tertidur setelah memakai pakaian dan mencuci kontol sebelumnya.
Sekitar pukul setengah empat aku dibangunkan oleh emak yang sudah selesai mengerjakan pekerjaan dirumahku,
"mau ngewe lagi ngga nTo ?" emak bertanya kepadaku.
Aku mengiyakan dan memulai pelajaran ngewe gaya dogy. Emak tidak mencapai orgasme, maklum aku masih cupu sehingga tidak bisa menahan nafsu.
Kata emak: "ngga apa-apa, nanti juga lama-lama aku pintar pungkasnya".
Emakpun pulang dan aku mandi dengan penuh kepuasan.
Sejak saat itu kami rutin melakukan hubungan intim.
Setidaknya seminggu empat kali kami melakukannya, kebetulan emak sudah menopause sehingga jadwal kami tidak pernah terganggu.
Tamat

Nek Sumi

Mulanhya aku sakit perut, Mama memanggil Nek Sumi untuk memijat perutku.
Di kampung kami, Nek Sumi terkenal pintar sekali pijat tuk Masuk angin, keseleo dan sebagainya, dia sangat pintar. Dia terkenal dukun beranak.
Saat Nek Sumi datang, perutku bukan main sakitnya.
Aku terkentut-kentut baung angin.
Rasanya, angin menyesak ke atas uluhatiku. Kata Nek "Sumi ini angin duduk, Harus segera di keluarkan jika tidak bisa mengakibatkan kefatalan". Aku segera disuruh membuka pakaian, tingal pakai kolor saja. Aku telungkup dan Nek Sumi memulai tugasnya memijat betisku. Lalu pinggangku dan di perutku.
Aku mulai terkentut-kentut. Baunya minta ampun. Perasaan dalam perutku sedikit lega.
Setelah selesai bagian belakang tubuhku, aku disuruh terlentang. Saat itu Nek Sumi menyuruh Mamaku membuat air jahe. Kebetlan Jahe di rumah habis, dan Mama membelinya ke warung.
Perutku mulai dikerjai dan aku kembalio terkentut-kentut. "Tuuuutttt....tuuuutttt.....buusshh". Angin terasa berhamburan keluar dari perutku. Aku merasa lega sekali.
Memang nek Sumi ahli sekali, pikirku. Aku memajamkan mataku, saat Nek Sumi terus memijat perutku. Tangan sebelahnya, mengelus-elus penisku. Dan dengan cepat penisku berdiri.
"Ikh... baru dielus saja sudah berdiri... Tandanya kamu sudah dewasa," katanya, membuat aku bangga. "Kenapa di pegang-pegang Nek...?" tanyaku,
"biar cepat sembuh. Tapi tak boleh bilang siapa-siapa, Nanti malah sakitnya kambuh lagi," ancam Nek Sumi. Aku mengangguk, karena takut perutku kambuh lagi. Nek Sumi berusia 58 tahun dan saat itu aku berusia 16 tahun.
"Bagaimana, sudah mulai enakan?" tanya Mamaku saat dia masuk membawa air jehe hangat.
Aku tersenyum, kulihat Nek Sumi mengedipkan mata, agar aku tak boleh menceritakan elusan di penisku tadi.
Aku meminum air jehe yang dibuat Mamaku. Sambil terus memijat tubuhku Nek Sumi menyarankan kepada Mamaku, agar aku dipijat tiga kali lagi. Pijatan itu dimulai besok sore.
Aku disuruh datang ke rumah Nek Sumi pukul 15.00 dan Mamaku menyetujui.
"Tak usah ditemani. Kan sudah dewasa. Lagi pula Nek Sumi kan bukan siapa-siapa," kata Nek Sumi.
"Iya... kalau sudah dewasa, tak perlu ditemani," kata Mamaku memperkuat.
Aku setuju saja. Pukul 15.00 tepat aku sudah berada di rumah Nek Sumi untuk pemijatan lanjutan.
Kali ini, tidak pakai acara telungkup, tapi langsung terlentang. Nek Sumi memluai pijatannya pada bagian perutku dan aku kembali terkentut. Lalu perlahan Nek Sumi melepaskan kolorku.
Di rumah Nek Sumi tak ada siapa-siapa dan aku dipijat di kamar prakteknya. Penisku mulai dielus-elusnya. Mulai dari buah zakar, sampai ke batangnya. Aku hanya memejamkan mata saja, membiarkan elusan yang mulai kurasakan sangat nikmat itu. Tak lama, kuintip, kenapa terasa elusan itu semakin nikmat, ternyata, Nek Sumi meulai menjilati penisku. "Bagaimana? Enak?" tanya Nek Sumi.
Aku diam saja tak menjawab. Lidah Nek Sumi semakin lincah menjilati penisku, buah zakarku dan sela-sela pahaku. Penisku mulai dimasukkan ke dalam mulutnya.
"Oh..." aku merasakan nikmat luar biasa sekali. Tanpa sadar, aku menjambak rambut Nek Sumi. Kujepit kepala Nek Sumi kuat-kuat. Nek Sumi semakin mempercepat kocokan pada penisku melalui mulutnya. Dan... aku sudah tak tahan, lalu aku melepaskan sesuatu dari penisku. Croot...crooottt... crooootttt, air mengental lepas dari penisku.
Aku mendengar, suara dari kerongkongan Nek Sumi yang menelan air kental yang keluar dari penisku. Setelah itu Nek Sumi menjilati penisku dan menghisap lubang penisku, agar air kentalku semua keluar.
Nek Sumi tersenyum padaku. "Sebentar lagi, kamu sembuh. Tapi ini harus dirahasiakan, kepada siapapun, termasuk kepada Mamamu, kalau tidak, penyakit perutmu akan kambuh lagi," katanya padaku.
Aku setuju. Setelah itu, Nek Sumi kembali memijat tubuhku, setelah celana kolorku dipakaiakan kembali. Saat aku mau pulang, kuberikan uang yang disampaikan Mamaku untuik Nek Sumi sebagai upah memijat. Nek Sumi bilang, uang itu untukku saja. "Kalau Mamamu tanya, bilang saja sudah sampai," kata Nek Sumi. Aku senang sekali. Besok aku harus datang lagi. Aku tak pernah tidak on time. Aku datang tepat waktu pukul 15.00. Nek Sumi sudah siap-siap. Dengan tersenyum dia mengajakku ke kamar prakteknya. Kemabli aku terlentang dan Nek Sumi memijat perutku. "Sudah mulai sembuh," katanya.
Nek Sumi kembali lagi menurunkan kolorku dan mengelus-elus penisku. Dengan cepat penisku berdiri tegak. Nek Sumi pun mulai menjilati penisku. Aku merasa nikmat sekali. Saat itu, nek Sumi melepaskan kain sarungnya. Aku melihat bulu-bulu di kemaluan Nek Sumi. Dengan cepat dia menaiki tubuhku. Dia jongkok dengan kedua kaki mengangkangi tubuhku. Dituntunnya penisku memasuki lubang di antara ke dua pahanya. Dengan cepat penisku memasuki lubang itu. Nek Sumi mulai menggoyang-goyangkan pantatnya ke kiri dan ke kanan. Aku merasa nikmat sekali. Nek Sumi mempercepat gerakannya dan menekan tubuhnya kuat-kuat. Lalu tubuhnya menindih tubuhku dan memelukku erat sekali. Desah nafasnya terasa begitu hangat dan memburu. Oh.... Nek Sumi mengeluarkan suara jerit yang tertahan. Aku merasa sesuatu yang hangat mengelilingi penisku. Aku juga memeluk Nek Sumi kuat-kuat karena terasa penisku seperti di pijat-pijat. Lalu... air kental kembali keluar dari penisku. Kami sama-sama berpelukan erat. Tak lama, penisku mengecil dan keluar dari lubang Nek Sumi. Aku dibawanya ke kamar mandi untuk membersihkan penisku. Setelah itu, Nek Sumi kembali memijat tubuhku. Setelah sekujur tubuhku di pijat, Nek Sumi kembali mengelus-elus penisku. Penisku perlahan bangkit lagi. Dengan cepat Nek Sumi memasukkan penisku ke dalam mulutnya dan dia mempermainkan lidahnya di pada penisku. Makin lama makin cepat, Kembali aku menjambak rambut Nek Sumi. Aku menjepit kepalanya dengan kuat dan lepas lagi air kental dari penisku. Kemabli aku mendengar suara gleeekkk. Nek Sumi menelan habis air kentalku. Hari terakhir, aku tak lagi dipijat sekujur tubuhku. Tapi Nek Sumi hanya memastikan keadaan perutku. Lalu aku ditelanjanginya dan Nek Sumi sendiri melepas semua pakaiannya. Nek Sumi mulai mengecup bibirku dan mempermainkan lidahnya dalam mulutku. Aku diajari berciuman. Aku diminta untuk mengisap-isap teteknya. Aku juga diajari menjilati memek nya. Sejak saat itu, secara rutin, aku mengunjungi Nek Sumi dua kali seminggu. Bila Nek Sumi sudah kepingin, dia cukup memberikan kode, dan aku mendatangi rumahnya. Jika aku yang kepingin, dari jauh, aku mengedipkan mataku kepada Nek Sumi dan Nek Sumi akan membuka kunci pintunya. Walau pintu kelihatan tertutup, tapi sebenarnya tidak terkunci. Aku langsung masuk ke rumahnya. Biasanya Nek Sumi sudah memakai daster longgar, tanpa pakaian dalam. Begitu sampai di rumahnya, kami langsung ke ruang prakteknya dan melakukan persetubuhan. Sebuah pengalaman berharga buatku. Aku sangat dimanja Nek Sumi. Setiap kali kami melakukan persetubuhan, aku selalu diberikan uang Rp. 20.000;
Tamat